Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Juni 2017

Postingan line 999 "Motivasi bersedekah dari seorang anak sd" Reviewed by Esemka Date 6/13/2017 09:54:00 AM

Postingan line 999 "Motivasi bersedekah dari seorang anak sd"

Tidak ada komentar :
Merinding

Itu.. serius anak SD?
Kok bisa.. 😢😢

Sesudah jumatan aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.

Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik.

Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya. Tak lama kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.

Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.

“Berapa harganya Nek?”
“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek.

Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata :

“Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”

Si nenek jelas sekali terlihat berbinar2 matanya :

“Ya Allah terima ksh bnyk Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya utk beli obat cucu yg lagi sakit.” Si nenek langsung jalan.

Refleks aku panggil anak lelaki itu.

“Siapa namamu ? Kelas berapa?”
“Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan.
“Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'”

” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”
“Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik.

“Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu berbicara dengan fasihnya.

Aku pegang bahu anak itu :

” Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?”
“Ketika saya masih TK, pak”

Tak terasa air mataku menetes :

“Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya.

Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata :

“Terima kasih banyak, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan… Tapi bapa punya keluarga…. Saya pamit balik ke kelas Pak”.

Radit menyalami tanganku dan menciumnya.

“Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.

Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya.

Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya. Kasir menjawab : ” Empat puluh ribu rupiah..”

Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya yang bayar… Kembaliannya berikan kepada si nenek ini..”

“Ya Allah.. Pak…”

Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik… Aku bergegas menuju Pandeglang menyusul teman-teman yang sedang keliling dakwah disana.

Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah.

Sahabat ada kalanya seorang ank lebih jujur dri pada orang dewasa,ajrkan lah ank2 kita dri dini tindakan nyata yg bukan teori semata.

Kisah ini dari hamba Allah.

Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D
Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
Read More

Selasa, 23 Mei 2017

TENTANG TAARUF (Menuju Pernikahan) Reviewed by Esemka Date 5/23/2017 11:56:00 AM

TENTANG TAARUF (Menuju Pernikahan)

Tidak ada komentar :
TENTANG TAARUF (Menuju Pernikahan)



Postingan ini request salah satu teman Muslim kita yg masih bingung soal TAARUF. Saya akan simpulkan dari kajian taaruf (Ust. Firanda & Ust. Nuzul Dzikri) serta berdasarkan pengalaman saya melihat teman saya yg taaruf beberapa waktu lalu.

Jadi taaruf itu artinya kenalan. Ya umum saja kenalan dgn teman, tetangga, rekan kerja... itu juga disebut taaruf. Tapi taaruf yg sedang dibahas di sini adalah taaruf dgn calon pasangan utk menuju pernikahan.

Para ulama menyimpulkan 2 kunci yg harus kita pegang dalam memilih pasangan
🔷 Dia shalih/ah
🔷 Kamu tertarik dan suka dengan dia

Lalu gimana sih cara taaruf???
Simplenya, dlm taaruf itu kamu "cari tau" calonmu seperti apa. Saya jabarkan di bawah ini dari sisi pandang ikhwan ya.

Ketika kamu (ikhwan) sudah ada akhwat yg kamu tertarik dengan dia dan ingin taaruf dengannya, yg bisa kamu lakukan adalah :

1. kamu amati dia beberapa waktu. Perhatikan dia dari jauh. Sekilas orangnya kira-kira gimana. Kalau kamu sudah yakin ingin taaruf dengannya, jangan ditunda lagi kamu langsung.

2. datangi teman atau kerabatnya dan sampaikan maksudmu untuk mengajak dia taaruf. Ini poin penting ya, ajak taaruf itu jangan langsung ke akhwatnya. Lebih baik lewat perantara, jadi nanti perantara itu lah yg akan bertindak sebagai "kantor pos". Ini akan lebih aman guna menghindari percakapan kurang penting yg menjerumuskan ke zina.

3. lalu setelah perantara menyampaikan maksudmu dan disetujui oleh akhwatnya, barulah kamu datangi wali akhwat tsb utk kemudian kamu utarakan dgn jantan maksud & tujuanmu kepada wali akhwat tsb bahwa kamu ingin mengenal putri mrk. Kalau sekiranya orang tua akhwat itu jauh dari pemahaman taaruf, kamu cukup sampaikan "Saya ingin mengenal putri Bapak & Ibu". Karna biasanya kalau pakai istilah taaruf, itu akan membingungkan atau bahkan menakutkan bagi mereka yg belum paham.

4. kemudian setelah itu, kalian bisa saling tukar cv. Sebenarnya ini bukan keharusan. Hanya saja ini cara yg lebih mudah dan aman dlm mengenal calon. Dalam cv, kamu isi biodata diri dan segala hal tentang dirimu. Karakter (sebaiknya tanyakan jg teman & keluargamu —karaktermu seperti apa di mata mrk— supaya km punya sisi pandang orang luar tentang dirimu). Kebiasaan sehari-hari. Hal yg disuka & dibenci. Penyakit berat yg pernah atau sedang diderita (jika ada). Kriteria calon yg kamu inginkan. Dan seterusnya, apa pun hal yg kamu rasa perlu diketahui pasangan taarufmu.

5. cv tersebut kemudian kamu & calonmu pahami. Lalu jika kalian sudah merasa cocok, kabari perantaramu utk langsung maju ke tahap nadzor. Nadzor berarti bertemu. Nadzor sebaiknya dilakukan di rumah akhwat dengan dihadiri keluarga inti akhwat. Dalam nadzor ini kalian berdua BOLEH saling bertanya apa pun (terkait maupun tidak terkait cv). Misal, dalam cv akhwat menulis salah satu karakternya adalah mudah menangis. Lalu saat nadzor kamu tanya "Apa yg biasanya membuat kamu mudah menangis?" Ini contoh. Intinya kalian saling tanya apa saja yg ingin kalian ketahui dari calon. Jika ada pertanyaan sensitif, seperti misal "Pernah pacaran?" dan kalian malu utk menjawabnya secara lgsg karna ada orang lain di sekitar kalian, maka bisa dijawab dgn ditulis di kertas kemudian diserahkan ke calon. Jadi hanya kedua calon saja yg mengetahui jawabannya. Kurang lebih seperti ini nadzor. Poinnya di sini kamu melihat atau mengenal lebih jauh calonmu. Di sini juga kamu sambil mengenal keluarga calon, karna tentu pernikahan bukan hanya tentang kamu & dia saja, tapi juga ada keluarga.

6. kamu BOLEH bertanya pada keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, atau siapa pun yg mengenal calonmu tentang kepribadian calonmu TANPA DIA KETAHUI alias diam-diam. Jadi kaya intel gitu😏

7. nah jika setelah nadzor dan proses "mencari tau" kepribadian calon tadi kamu merasa perlu pikir-pikir lagi, maka kamu bisa ajukan waktu sekian lama utk berpikir dlm mengambil keputusan ke langkah selanjutnya yakni khitbah atau melamar. Tapi jika kamu sudah merasa yakin, maka bisa langsung tentukan kapan akan khitbah.

8.setelah khitbah, jika lamaran diterima maka langsung akad dan walimah. Jika lamaran ditolak maka ikhtiar lagi hehe.

Kalau sudah merasa cocok SEGERA lah menikah! Karna kalau ditunda-tunda, itu bisa masuk celah syaitan utk menjerumuskan ke zina.
straightsunnahJangan lupa shalat istikhoroh. Dan shalat istikhoroh itu dilakukan ketika kamu sudah yakin memilih calonmu. Jadi shalat istikhoroh itu ibaratnya seperti bertanya pada Allah ﷻ "pilihanku sudah tepat belum?"

Gimana Allah ﷻ jawabnya? Lewat sinyal. Kamu harus peka dengan ini. Intinya kalau kamu merasa proses taaruf➡walimah dipermudah, berarti dia memang jodohmu. Tapi kalau proses taaruf➡walimah terasa sulit dan selalu ada hambatan, bisa jadi itu sinyal dari Allah ﷻ bahwa dia bukan jodohmu.

Terus semangat. Dalam proses pencarian, tetaplah menjaga harga diri di media sosial. Yg ikhwan jangan genit. Yg akhwat jangan mancing digenitin. Jadilah jomblo yg "mahal".

@straightsunnah
Read More

Senin, 17 April 2017

Kenapa saat adzan berkumandang kita menunggu berdiri? Reviewed by Esemka Date 4/17/2017 07:36:00 AM

Kenapa saat adzan berkumandang kita menunggu berdiri?

Tidak ada komentar :
Kita kayanya udah ga asing dan sering melihat orang saat datang kemasjid dan adzan berkumandang pasti berdiri hingga adzan selesai, dulu saya sering betanya tanya kenapa? ada alasannya? sebuah kebiasaan? hingga saat itu akhirnya saya mencari jawabannya dan terjawab sudah rasa pertanyaan saya. 

Mungkin ada sebagian orang yang melakukan nya ada juga mungkin yang tidak melakukannya. bukan karena suatu kebiasaan atau adat apapun tapi ada ada dasar alasannya dan dengan itu juga dia sedang memburu tiga pahala....
  1. Menjawab Azan,
  2. Melakukan Solat Tahiyatul masjid 
  3. Berdo’a selepas Adzan

Alasan yang pertama karena mereka (yang berdiri saat adzan berkumandang) belum melakukan shalat Tahiyatul Masjid, Hukum shalat sunnah tahiyatul masjid adalah sunnah muakkad. Bahkan pada waktu khutbah jum'at shalat tersebut masih dilanjutkan untuk dikerjakan, 



Anjuran mengerjakannya

Dari Abu Qatadah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

"Jika salah seorang dari kalian. Masuk masjid , maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum duduk. " ( Hr Al bukhari dan Muslim)





Read More

Kamis, 15 Januari 2015

Penjelasan pengertian contoh AKIDAH, SYARIAT, DAN AKHLAK Reviewed by Esemka Date 1/15/2015 05:08:00 AM

Penjelasan pengertian contoh AKIDAH, SYARIAT, DAN AKHLAK

Tidak ada komentar :


AKIDAH, SYARIAH, DAN AKHLAK

A.  Akidah
Akidah adalah bentuk jamak dari kata ‘Aqaid, yaitu beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Akidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan akal wahyu (yang di dengar dan fitrah) . Kebanaran itu di kuatkan dalam hati, dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu. Secara ringkas akidah adalah ketentuan atau ketetapan Allah yang fitrah yang selalu bersandar kepada kebenaran (hak), sah selamanya tidak pernah berubah dan selalu terikat dalam hati. Misalnya, keyakinan manusia akan wujud (adanya) sang pencipta,kekayaan maupun ilmu yang dimilikinya.
Firman Allah :
 “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah kitab yang menerangkan dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoannya dengan jalankeselamatan, dengankitab itu pula Allah mengeluarkan orang – orang itu dari gelap- gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seijinnya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”
Firman Allah yang artinya : 
“Dan orang – orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesunnguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.(Q.S. Al-Haj,22: 54).



A.  Syariat
Syari’at merupakan ajaran Islam yang berhubungan dengan perbuatan dan tindak-tandak manusia. Secara garis besar syari’at menghimpun urusan-urusan ritual ibadah dan semua pola hubungan manusia baik itu dengan dirinya sendiri, sesama maupun lingkungannya.

B.  Akhlak

a.       Pengerian Akhlak
Akhlak adalah sifat manusia (baik ataupun buruk) yang akan muncul pengaruhnya dalam kehidupannya. Dalam prakteknya akhlak bisa dikatakan buah atau hasil dari akidah yang kuat dan syari’at yang benar, dan itulah tujuan akhir dari ajaran Islam ini, sebagaimana sabda Rasul SAW: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”.
Karena sumber agama adalah Allah SWT, maka untuk menjelaskan itu semua diutuslah para nabi dan rasul. Semua rasul tersebut diajarkan melalui wahyu-Nya tentang aqidah yang bernar, yang tidak pernah berubah sepanjang sejarah meskipun berganti rasul dan nabi yang diutus-Nya. Hal inilah yang dimaksudkan Allah SWT dalam firmannya QS: Asy-Syura ayat 13,
“Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…”
Artinya, secara akidah risalah para rasul dan nabi tidak ada perbedaan, apa yang diturunkan kepada Nabi Nuh a.s, Ibrahim a.s, Musa a.s, Isa a.s dan nabi-nabi lainnya tidak berbeda dengan apa yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW dari sisi akidah, yaitu keyakinan dan iman kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan Pencipta dan Pengatur segala. Inilah dia dasar agama samawi yang sesungguhnya dan dengan inilah umat manusia sejak zaman Nabi Adam a.s sampai akhir zaman mesti bersatu…
“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya..!”
Sedangkan yang berhubungan dengan syari’at, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan amal, perbuatan dan perilaku manusia, disinilah letak sebagian besar  perbedaan antara agama-agama samawi, karena setiap umat dan rasul memiliki syari’at dan kondisi yang berbeda-beda sebagaimana firman Allah:
“Untuk tiap-tiap umat Kami berikan aturan (syari’at) dan jalan yang terang (minhaj). sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu.” (QS Al-Maidah: 48)
Demikianlah Allah menjadikan syari’at tiap umat berbeda, sesuai dengan kondisi dan tabiat masing-masing. Ssyari’at yang berbeda-beda itu terus berkembang dan berubah sampai menemui titik puncak kesempurnaannya pada syari’at Islam, yang selamanya bisa berlaku dan sesuai dengan perkembangan dan perbedaan tabiat manusia sampai akhir zaman, karena


syari’at Islam adalah syari’at yang mudah dipelajari dan menjadikan kemaslahatan umat manusia sebagai salah satu asasnya.
Dengan demikian syari’at dapat menerima pergantian, perubahan dan penghapusan, seperti syari’at Nabi Musa a.s yang dihapus dan diganti dengan datangnya syari’at Nabi Isa a.s, namun lain halnya dengan akidah, ia sebaliknya tidak bisa berganti danberubah karena ia adalah sesuatu yang asasi dan titik temu antar generasi umat manusia.[2]
Sedang masalah moralitas dan akhlak (etika) juga sebagai sisi penting yang memberikan keseimbangan bagi seorang muslim sejati.
Sebagai buah dari syari’at dan akidah yang baik,  menjadikan akhlak dalam Islam menyentuh semua lini, mulai dari lini hubungan manusia dengan dirinya, dengan sesama manusia, dengan lingkungan bahkan hubungan manusia dengan Tuhannya. Semuanya mestilah mendapatkan percikan nilai-nilai akhlak dan moralitas.
Dan bisa dikatakan juga akidah seseorang tidak sempurna jika tidak dibarengi dengan akhlak, seperti akhlak kepada Allah, Rasul-Nya dan sebagainya dalam hal akidah, bagaimana mungkin seseorang bisa dikatakan berislam dengan baik jika ia menghina Tuhannya sendiri, mengejek dan menyematkan icon-icon yang menjatuhkan kemuliaan Rasulnya?.
Demikian juga syari’at, mesti juga diiringi dengan akhlak dan moral, tidak perlu mengambil contoh jauh, shalat saja terang-terangan salah satu tujuannya adalah untuk menghindarkan manusia dari sifat keji dan mungkar yang sekaligus menjelaskan sisi moralitas dari ibadah dalam Islam,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al-Ankabut: 45).
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada tiga hubungan yang mengharuskannya untuk berbuat sesuatu. Yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT ( ibadah ), hubungan manusia dengan sesama manusia ( muamalah dan uqubat ) dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri ( akhlak, makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain ).  Ketiga hubungan tadi mengharuskan kita untuk menentukan sikap yang harus diambil sesuai dengan pemikirannya, dan termasuk akhlak.
Dalam perspektif Islam, akhlak merupakan bagian dari syariat Islam. Dalam syariat Islam akhlak tidak menjadi bagian khusus yang terpisah, bahkan dalam fikih tidak dibuat satu bab pun yang khusus membahas akhlak.
a.       Fungsi Akhlak
Berdasarkan fungsinya, akhlak merupakan pemenuhan terhadap perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya, bukan karena akhlak ini membawa manfaat atau madlarat dalam kehidupan. Walhasil akhlak tidak dapat dijadikan dasar bagi terbentuknya suatu masyarakat. Akhlak adalah salah satu dasar bagi pembentukan individu. Masyarakat tidak dapat dipebaiki dengan akhlak, melainkan dengan dibentuknya pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan Islami, serta diterapkannya peraturan Islam di tengah-tengah masyarakat itu. Yang menggerakkan masyarakat bukanlah akhlak, melainkan peraturan-peraturan yang diterapkan


di tengah-tengah masyarakat itu, pemikiran-pemikiran, dan perasaan yang melekat pada masyarakat tersebut.
Untuk menilai baik buruknya suatu akhlak, bisa ditinjau dari dua pendekatan yang paling banyak dilakukan, yaitu kebenaran relative dan kebenaran mutlak. Dalam pendekatan kebenaran relative, nilai sebuah akhlak menjadi relative karena disandarkan pada penilaian subjektif manusia. Akhlak yang dianggap baik oleh masyarakat di suatu tempat belum tentu baik bagi masyarakat di tempat lain, misalnya bagi orang-orang barat bergaul bebas antara lawan jenis bukan hal yang tabu tapi bagi orang-orang islam yang taat hal seperti itu tentunya sangat dilarang. Semua tergantung dari pemahaman manusia tentang perbuatan yang dilakukan dan kebiasaan atau kebudayaan yang ada di suatu tempat. Dalam pendekatan kebenaran mutlak hanya ada satu sudut pandang yang menyatakan akhlak itu baik atau buruk. Tidak ada perdebatan diantaranya karena sumber dari penetapan baik dan buruk itu bersifat pasti. Perintah dan larangan Allah SWT yang terdapat dalam al Quran merupakan parameter penentu baik buruknya suatu akhlak tanpa memperhatikan apakah perasaan manusia menganggapnya baik atau buruk. Dari kedua pendekatan diatas, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa penilaian sebuah ahlak hendaklah disandarkan pada kebenaran mutlak yang terdapat dalam Al-Quran. Selain itu, akhlak yang biasa kita kategorikan sebagai akhlak yang baik seperti jujur, sopan, ramah, dan lain-lain bisa saja menjadi akhlak yang buruk jika hal itu bertentangan dengan perintah dan larangan Allah SWT. Misalnya, jujur kepada musuh saat perang sangat tidak diperbolehkan karena dapat merugikan. Pada konteks ini jujur termasuk akhlak yang tercela karena bisa membocorkan rahasia Negara atau saat perang kita bersikap lemah lembut terhadap musuh, hal itu tidak diperbolehkan karena sudah menjadi kewajiban kita untuk mengalahkan musuh saat terjadi peperangan.
Dalam membangun sebuah masyarakat, akhlak sering dijadikan sebagai fokus utama untuk merekonstruksi sebuah masyarakat. Hal ini tentu saja sangat keliru mengingat akhlak adalah dasar bagi pembentukan individu. Jika kita menitiberatkan dakwah kita pada akhlak, maka yang timbul adalah pengkultusan pada tokoh tertentu tanpa mengetahui sebabnya kenapa harus berbuat seperti itu. Untuk merekonstruksi sebuah masyarakat hendaklah berdakwah yang berlandaskan pada pemikiran, karena dengan pemikiran suatu masyarakat akan bisa bangkit dari keterpurukan menuju keadaan yang lebih baik. Walaupun demikian, pembinaan akhlak tidak boleh dikesampingkan. Semua harus berjalan beriringan sehingga mengkasilkan output yang baik bagi dakwah kita. Tinggal bagaimana kita menentukan fokus yang akan kita ambil, apakah ingin menitiberatkan pembentukan karakter dengan akhlak atau pembentukan system yang berlandaskan pada dakwah pemikiran sebagai sarana untuk menegakan hukum. Semua itu tergantung pada analisis kondisi objek yang akan kita ubah. Dengan demikian kita bisa menentukan strategi yang cocok untuk merubah masyarakat menjadi lebih baik lagi.






            Muslim  yang baik adalah orang yang memiliki aqidah yang kurus dan kuat mendorongnya untuk melaksanakan syariah yang hanya ditujukan kepada Allah sehinngga tergambar akhlak yang terpuji bagi dirinya. Atas dasar hubungan itu, maka seseorang yang melakukan suatu pernuatan baik ,tetapi tidak dilandasi oleh aqidah dan keimanan, maka orang itu termasuk dalam kategori kafir. Seseorang yang mengaku beraqidah atau beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syariah, maka orang itu di sebut fasik. Sedangkan orang yang mengaku beriman dan melaksanakan syariah tetapi dengan landasan aqidah yang lurus disebut munafik.
            Aqidah, syariah dan akhlak dalam Al-Quran disebut amal saleh.Iman menunjukkan makna aqidah, sedangkan amal saleh menunjukkan pengertian syariah dan akhlak.
            Seseorang yang melakukan perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi aqidah, maka perbuatannya hanya di kategorikan sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi belum tentu benar di pandangan Allah. Sedangakan perbuatan baik yang di dorong oleh keimanan terhadap Allah sebagai wujud pelaksanaan syariah disebut amal saleh. Karena itu di dalam Al-Quran kata amal saleh selalu di awali dengan kata iman. Antara lain firman Allah dalam surah (An-Nur, 24 : 55) “Allah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal saleh menjadi pemimpin di bumi sebagaimana ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka (kaum muslimin dahulu) sebagai pemimpin; dan mengokohkan bagi mereka agama mereka yang ia ridhai bagi mereka, dan menggantikan mereka dari rasa takut mereka (dengan rasa tenang). Mereka menyembah hanya kepadaku, mereka tidakmenserikatkan Aku dengan suatu apapun. Dan barang siapa ingkar setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
Jadi demikianlah universalitas dan jalan kesempurnaan yang diajarkan Islam, yaitu jalan yang menyeimbangkan antara Akidah, Syari’at dan Akhlak.


INTISARI
1. Akidah itu konsep keimanan/keyakinan akan Tuhan dan Hari Kemudian, dalam Islam contohnya tauhid (monotheisme "satu Tuhan saja" bukan satu "ketuhanan" misalnya). 
2. Syariah itu hukum yang diturunkan dari wahyu Ilahi, contohnya dalam Islam dari Al-Quran (wahyu Allah Swt) dan Sunnah (ucapan, tindakan, persetujuan Rasululullah saw yang diilhami wahyu Ilahi). 
3. Akhlak itu etika, yakni penjelmaan praktis iman dan sekaligus semangat di balik syariah, misalnya tashawuf dalam Islam. Tanpa akhlak iman sekadar hiasan bibir, dan tanpa akhlak syariah sekadar hukuman dan bukan hukum yang berasaskan keadilan (aspek terpenting dalam relasi sosial dalam Islam). 


Read More

Kamis, 11 Desember 2014

TOLERANSI DALAM BERAGAMA Defenisi Konsep toleransi beragama dalam Islam Reviewed by Esemka Date 12/11/2014 05:05:00 AM

TOLERANSI DALAM BERAGAMA Defenisi Konsep toleransi beragama dalam Islam

Tidak ada komentar :
NAMA : FATHURRAHMAN MAULANA S
NIM : 145428

TOLERANSI DALAM BERAGAMA

·         Defenisi
Toleransi adalah secara bahasa bermakna sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dsb) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri 
kata tolerasi dalam bahasa Belanda adalah "tolerantie", dan kata kerjanya adalah "toleran". Sedangkan dalam bahasa Inggeris, adalah "toleration" dan kata kerjanya adalah "tolerate".
Toleran mengandung pengertian: ber-sikap mendiamkan. Adapun toleransi adalah suatu sikap tenggang rasa kepada sesamanya. Indrawan WS. menjelaskan pengertian toleran adalah menghargai paham yang ber-beda dari paham yang dianutnya sendiri. Kesediaan untuk mau menghargai paham yang berbeda dengan paham yang dianutnya sendiri.
Sementara menurut istilah Sedangkan pengertian toleransi sebagai istilah budaya, sosial dan politik, ia adalah simbol kompromi beberapa kekuatan yang saling tarik-menarik atau saling berkonfrontasi untuk kemudian bahu-membahu membela kepentingan bersama, menjaganya dan memperjuangkannya. Demikianlah yang bisa kita simpulkan dari celotehan para tokoh budaya, tokoh sosial politik dan tokoh agama diberbagai negeri, khususnya di Indonesia . Maka toleransi itu adalah kerukunan sesama warga negara dengan saling menenggang berbagai perbedaan yang ada diantara mereka.

Sampai batas ini, toleransi masih bisa dibawa kepada pengertian syariah islamiyah. Tetapi setelah itu berkembanglah pengertian toleransi bergeser semakin menjauh dari batasan-batasan islam, sehingga cenderung mengarah kepada sinkretisme agama-agama berpijak dengan prinsip yang berbunyi “semua agama sama baiknya”. Prinsip ini menolak kemutlakan doktrin agama yang menyatakan bahwa kebenaran hanya ada didalam islam. Kalaupun ada perbedaan antara kelompok islam dengan kelompok non muslim, maka segere dikatakan bahwa perkara agama, adalah perkara yang sangat pribadi sehingga dalam rangka kebebasan, setiap orang merasa berhak berpendapat tentang agama ini, mana yang diyakini sebagai kebenaran 

Lalu bagaimana Islam mendefenisikan Toleransi?
Secara bahasa arab  akan kita temukan kata yang mirip dengna arti toleransi yakni
"إختمال تسمه  ikhtimal dan tasammuh yang artinya sikap membiarkan, lapang dada (samuha - yasmuhu - samhan, wasimaahan, wasamaahatan, artinya: murah hati, suka berderma) 
Jadi toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai, dengan sabar menghor-mati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain. Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haq bil bathil, mencampuradukan antara hak dan batil, suatu sikap yang sangat terlarang dila-kukan seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah tole-ransi padahal itu merupakan sikap sinkretis yang dilarang oleh Islam.
Harus kita bedakan antara sikap toleran dengan sinkretisme. Sinkretisme adalah mem-benarkan semua keyakinan/agama. Hal ini dilarang oleh Islam karena termasuk Syirik.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam". (QS. Ali Imran: 19)
Sinkretisme mengandung talbisul haq bil bathil (mencampurkan yang haq dengan yang bathil). Sedangkan toleransi tetap memegang prinsip al-furqon bainal haq wal bathil (me-milah/memisahkan antara haq dan bathil). Toleransi yang disalahpahami seringkali men-dorong pelakunya pada alam sinkretisme. Gambaran yang salah ini ternyata lebih do-minan dan bergaung hanya demi kepentingan kerukunan agama.
Dalam Islam tole-ransi bukanlah fata-morgana atau bersifat semu. Tapi memiliki dasar yang kuat dan tempat yang utama. Ada beberapa ayat di dalam Al-Qur'an yang bermuatan toleransi.

·         Konsep toleransi beragama dalam Islam
A.  Toleransi dalam keyakinan dan menjalankan peribadahan
Dari pengertian diatas konsep terpenting dalam toleransi Islam adalah menolak sinkretisme.
Yakni Kebenaran itu hanya ada pada Islam dan selain Islam adalah bathil. Allah Ta'ala berfirman:
Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah hanyalah islam”.(Al-Imran: 19)
Barangsiapa yang mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) dari padanya, dan diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Al-Imran: 85)
Kemudian Kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah didunia ini adalah pasti dan tidak ada keraguan sedikitpun kepadanya. Dan kebenaran itu hanya ada di agama Allah Ta' ala. ”
“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka janganlah engkau termasuk kalangan orang yang bimbang.”( Al- baqarah :147 )
Kemudian Kebenaran Islam telah sempurna sehingga tidak bersandar kepada apapun yang selainnya untuk kepastiaan kebenarannya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku lengkapi nikmatku atas kalian dan Aku ridhoi islam sebagai agama kalian”. (Al-Maidah: 3)

Kaum mu'minin derajat kemuliaannya dan kehormatannya lebih tinggi daripada orang-orang kafir (non-muslim) dan lebih tinggi pula daripada orang-orang yang munafik (ahlul bid'ah) Allah menegaskan yang artinya “maka janganlan kalian bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (Al-Imran: 139)
Kaum muslimin dilarang ridho atau bahkan ikut serta dalam segala bentuk peribadatan dan keyakinan orang-orang kafir dan musyrikin hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya:
“Katakanlah: wahai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah dan aku tidak menyembah apa yang kalian sembah dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku”. (Al-Kafirun: 1-6).

B.   Toleransi dalam Beragama/ hidup berdampingan dengan agama lain.
Yakni umat Islam dilarang untuk memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk agama Islam secara paksa. Karena tidak ada paksaan dalam agama. Allah berfirman:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan dalam masuk ke dalam agama Islam, karena telah jelas antara petunjuk dari kesesatan. Maka barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Alloh sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat yang tidak akan pernah putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( Qs. Al-Baqoroh : 256 )
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ

“Berilah peringatan, karena engkau ( Muhammad ) hanyalah seorang pemberi peringatan, engkau bukan orang yang memaksa mereka.” ( Qs. Al-Ghosyiyah : 21 -22 )
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ter-sebut menjelaskan: Janganlah memaksa seorangpun untuk masuk Islam. Islam adalah agama yang jelas dan gamblang tentang se-mua ajaran dan bukti kebenarannya, sehingga tidak perlu memaksakan seseorang untuk ma-suk ke dalamnya. Orang yang mendapat hida-yah, terbuka, lapang dadanya, dan terang ma-ta hatinya pasti ia akan masuk Islam dengan bukti yang kuat. Dan barangsiapa yang buta mata hatinya, tertutup penglihatan dan pen-dengarannya maka tidak layak baginya masuk Islam dengan paksa.
Demikian pula Ibnu Abi Hatim meriwa-yatkan telah berkata bapakku dari Amr bin Auf, dari Syuraih, dari Abi Hilal, dari Asbaq ia berkata, "Aku dahulu adalah abid (hamba sahaya) Umar bin Khaththab dan beragama nasrani. Umar menawarkan Islam kepadaku dan aku menolak. Lalu Umar berkata: laa ikraha fid din, wahai Asbaq jika anda masuk Islam kami dapat minta bantuanmu dalam urusan-urusan muslimin." 

C.   Toleran dalam hubungan antar bermasyarakat dan bernegara.
Dalam hal ini terdapat beberapa hal konsep sikap toleran yang harus ditunjukan umat Islam yakni diantaranya:
a.       Kaum muslimin harus tetap berbuat adil walaupun terhadap orang-orang kafir dan dilarang mendhalimi hak mereka.
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya kepada mereka. Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikandan taqwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan kemaksiatan dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)
b.      Orang-orang kafir yang tidak menyatakan permusuhan terang-terangan kepada kaum muslimin, dibolehkan kaum muslimin hidup rukun dan damai bermasyarakat, berbangsa dengan mereka. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan  berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (8) “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negrimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.” (Al-Mumtahanah: 8-9)
Artinya umat Islam diperbolehkan berbuat baik terhadap mereka, hidup bermasyakarat dan bernegara dengan mereka selama mereka berbuat baik dan tidak memusuhi umat Islam dan selama tidak melanggar prinsip-prinsip terpenting dalam Islam. Dan hal ini seperti yang dicontohkan Nabi Saw., dalam jual beli

Dari Jabir bin Abdullah Radliyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membeli onta dari dirinya, beliau menimbang untuknya dan diberatkan (dilebihkan).

Dari Abu Sofwan Suwaid bin Qais Radliyallahu 'anhu dia berkata : "Saya dan Makhramah Al-Abdi memasok (mendatangkan) pakaian/makanan dari Hajar, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi kami dan belaiu membeli sirwal (celana), sedang aku memiliki tukang timbang yang digaji, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan tukang timbang tadi.
"Artinya : Timbanglah dan lebihkan !" .
Nabi juga pernah memaafkan kesalahan orang kafir dan mendoakannya. Hal ini terjadi ketika setelah peperangan, yang paman beliau dibunuh kaum musyrikin, dan badannya dicincang-cincang, Nabi sendiri giginya pecah dan wajah beliau terluka, maka salah seorang shahabat meminta beliau untuk mendoakan keburukan bagi orang-orang musyrikin yang dzalim tersebut, namun beliau bersabda:
Ya Allah, ampunilah kaumku, seusngguhnya mereka tidak mengetahui.”.
Kemudian dapat dilihat pula bagaimana sikap Nabi dalam hal memutuskan.

Dari Abu Hurairah Radliyallahu anhu, bahwasanya ada seorang lelaki yang menagih Rasulullah Shallallahu 'alihi wa sallam sembari bersikap kasar kepada beliau, maka para sahabat-pun hendak menghardiknya, beliau bersabda : "Biarkanlah dia, karena setiap orang punya hak untuk berbicara, belikan untuknya seekor onta lalu berikan kepadanya" Para sahabat berkata : "Kami tidak mendapatkan kecuali yang lebih bagus jenisnya!" Beliau bersabda : "Belikanlah dan berikan kepadanya karena sebaik-baik kalian adalah yang terbaik keputusannya.






v     Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapatlah kita tarik beberapa kesimpulan
-            Bahwa toleransi dalam Islam adalah toleransi sebatas menghargai dan menghormat pemeluk agama lain, tidak sampai pada sinkretisme.
-            Islam memiliki prinsip-prinsip dasar dalam toleransi ini, yakni menyatakan bahwa satu-satunya agama yang benar adalah Islam, Islam adalah agama yang sempurna, dan Islam dengan tegas menyatakn bahwa selain dari Islam tidak benar, atau salah. Dan sebagainya.
-            Toleransi Islam dalam hal beragama adalah tidak adanya paksaan untuk memeluk agama Islam.
-            Kemudian toleransi Islam terhadap hidup bermasyarakat dan bernegara, yakni islam membolekan hidup berdampingan dalam hal bermasyakat bernegara selama mereka tidak memusuhi dan tidak memerangi umat Islam. Dalam hal ini umat Islam diperintahkan berbuat baik dan menjaga hak-hak mereka dan sebagainya.


Read More