Tampilkan postingan dengan label line999. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label line999. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Juli 2017
Postingan Line 999 Pak Dahlan Iskan divonis 2 tahun. Dua tahun untuk semua yang dilakukannya bagi negeri ini.
Reviewed by Esemka
Date 7/21/2017 08:16:00 AM
Label:
artikel
,
line999
Postingan Line 999 Pak Dahlan Iskan divonis 2 tahun. Dua tahun untuk semua yang dilakukannya bagi negeri ini.
Pak Dahlan Iskan divonis 2 tahun. Dua tahun untuk semua yang dilakukannya bagi negeri ini.
Negara ini tak pernah memberi apa-apa kepada Dahlan Iskan. Dia tidak seperti banyak anak bangsa yg disekolahkan dan mendapat beasiswa ke luar negeri dan pulang-pulang mengantre kemapanan, alih-alih membangun negeri.
Dia terlahir dengan kemiskinan ekstrem. Kondisi yang siapapun bisa memikirkan bahwa pendidikan adalah kemewahan dan bukanlah hak asasi warga negara.
Tapi, dia bisa bangkit tanpa terjebak melankolia menjadi orang susah, memperjuangkan pendidikan, melihat sesuatu dari sudut yang semata-mata positif, mempelajari apa saja dengan riang gembira.
Dahlan Iskan yg saya suka adalah manusia pembelajar. Dia suka belajar apa saja dan mengekspos dirinya sendiri ke macam-macam tantangan. Manusia tipe A yang tidak setiap saat bisa kamu temui dalam zamanmu. Dia adalah mesin pompa harapan. Mata air inspirasi yang tidak pernah kering. Dia memiliki kualitas yang langka: mengubah besi menjadi emas.
Saat terbaring di sebuah rumah sakit di Tiongkok karena sakit parah yg dideritanya, dia mengubah brankarnya menjadi kursi belajar, yg dari sana dia bisa mendatangkan guru bahasa. Dia mungkin menteri dalam cabinet pemerintahan lalu dan bakal calon presiden yang tamatan Aliyah yang menguasai banyak bahasa dunia: Arab, Inggris, Tiongkok…
Sepulangnya dari negeri itu, dia mendapatkan kehidupan keduanya yang memberinya kekuatan dan pencerahan bahwa hidupharuslah bermanfaat untuk bangsa dan negara. Saat dia diminta untuk mengabdi, dia menyanggupinya dengan kepatuhan dan kekuatan nyaris seperti kuda pacu. Dia bekerja hingga larut malam dan memulai hari lebih pagi dari pejabat manapun di republik ini. Dia mengejar pesawat siang, sore dan malam untuk bisa hadir ke tempat –tempat tugasnya, berjalan kaki menembus hutan-hutan di Papua, berjalan kaki di Havana Bima, mendaki gunung-gunung di Sumatera dan Jawa, menginap di mana saja dia bisa diterima, memuji apapun makanan tuan rumah yang dihidangkan untuknya, tidur di tempat manapun dia bisa tertidur.
Dia merintis mobil listrik. Membiayai dari kantongnya sendiri. Menggaji para pembuatnya dari gaji menterinya. Dia melakukan pengujian sendiri, yang membuat nyawanya nyaris melayang, tapa membuatnya kapok untuk melakukanya lagi karena menurutnya inilah teknologi mobil di masa depan yang harus dimiliki Indonesia.
Demi Indonesia. Semuanya dilakukannya demi negerinya.
Tapi semua itu sia-sia. Cinta Dahlan Iskan kepada negaranya adalah cinta, yang bukan saja bertepuk sebelah tangan, tetapi berbalas tangan hukum. Dia diperkarakan, para enginer mobil listriknya ditangkap, kelak, bertahun-tahun kemudian apa yang dikatakannya benar. Thailand kini telah menasbihkan diri sebagai pusat pengembangan mobil listrik di Asia Tenggara.
Adapun Dahlan Iskan seperti dijebloskan ke dalam sebuah taman permainan hukum yang tidak pernah ada akhirnya. Selesai mobil, dia dijegal dengan pembangkit listrik, di sana sudah menunggu kasus sawah fiktif, sebelum itu, dia harus melewati terowongan kasus-kasus di kotanya: Pelepasan aset PT PWU perusahaan BUMD Pemprov Jatim, dll. Tak penting apapun kasusnya, asalkan bisa menjeratnya. Asalkan bisa membuat dia tidak aktif hingga Pilpres 2019 mendatang.
Kemarin, dia divonis 2 tahun penjara. Untuk kasus yang setiap orang Indonesia, asalkan balig dan berakal, tahu bahwa itu semata-mata penjegalan.
Melihat Pak Dahlan duduk dengan di kursi pesakitan dan mendengarkan vonis yang dijatuhkan kepadanya membuat saya memikirkan nasib setiap orang yang tulus di negeri ini. Dua tahun vonis. Setelah semua yang dilakukannya bagi negara ini, setelah semua iktikad baik, perjuangan, ketahanan untuk selalu berpihak kepada orang banyak dan kesepian pengorbanan, setelah semua tetes keringat, harta, curah pikiran dan nyawa, yang sedianya setahu saya bisa diberikannya kapan saja negeri ini meminta;. negaranya akhirnya memberinya imbalan berupa penderitaan di hari tuanya.
*(Randu, Radar Banjarmasin)*
Read More
Negara ini tak pernah memberi apa-apa kepada Dahlan Iskan. Dia tidak seperti banyak anak bangsa yg disekolahkan dan mendapat beasiswa ke luar negeri dan pulang-pulang mengantre kemapanan, alih-alih membangun negeri.
Dia terlahir dengan kemiskinan ekstrem. Kondisi yang siapapun bisa memikirkan bahwa pendidikan adalah kemewahan dan bukanlah hak asasi warga negara.
Tapi, dia bisa bangkit tanpa terjebak melankolia menjadi orang susah, memperjuangkan pendidikan, melihat sesuatu dari sudut yang semata-mata positif, mempelajari apa saja dengan riang gembira.
Dahlan Iskan yg saya suka adalah manusia pembelajar. Dia suka belajar apa saja dan mengekspos dirinya sendiri ke macam-macam tantangan. Manusia tipe A yang tidak setiap saat bisa kamu temui dalam zamanmu. Dia adalah mesin pompa harapan. Mata air inspirasi yang tidak pernah kering. Dia memiliki kualitas yang langka: mengubah besi menjadi emas.
Saat terbaring di sebuah rumah sakit di Tiongkok karena sakit parah yg dideritanya, dia mengubah brankarnya menjadi kursi belajar, yg dari sana dia bisa mendatangkan guru bahasa. Dia mungkin menteri dalam cabinet pemerintahan lalu dan bakal calon presiden yang tamatan Aliyah yang menguasai banyak bahasa dunia: Arab, Inggris, Tiongkok…
Sepulangnya dari negeri itu, dia mendapatkan kehidupan keduanya yang memberinya kekuatan dan pencerahan bahwa hidupharuslah bermanfaat untuk bangsa dan negara. Saat dia diminta untuk mengabdi, dia menyanggupinya dengan kepatuhan dan kekuatan nyaris seperti kuda pacu. Dia bekerja hingga larut malam dan memulai hari lebih pagi dari pejabat manapun di republik ini. Dia mengejar pesawat siang, sore dan malam untuk bisa hadir ke tempat –tempat tugasnya, berjalan kaki menembus hutan-hutan di Papua, berjalan kaki di Havana Bima, mendaki gunung-gunung di Sumatera dan Jawa, menginap di mana saja dia bisa diterima, memuji apapun makanan tuan rumah yang dihidangkan untuknya, tidur di tempat manapun dia bisa tertidur.
Dia merintis mobil listrik. Membiayai dari kantongnya sendiri. Menggaji para pembuatnya dari gaji menterinya. Dia melakukan pengujian sendiri, yang membuat nyawanya nyaris melayang, tapa membuatnya kapok untuk melakukanya lagi karena menurutnya inilah teknologi mobil di masa depan yang harus dimiliki Indonesia.
Demi Indonesia. Semuanya dilakukannya demi negerinya.
Tapi semua itu sia-sia. Cinta Dahlan Iskan kepada negaranya adalah cinta, yang bukan saja bertepuk sebelah tangan, tetapi berbalas tangan hukum. Dia diperkarakan, para enginer mobil listriknya ditangkap, kelak, bertahun-tahun kemudian apa yang dikatakannya benar. Thailand kini telah menasbihkan diri sebagai pusat pengembangan mobil listrik di Asia Tenggara.
Adapun Dahlan Iskan seperti dijebloskan ke dalam sebuah taman permainan hukum yang tidak pernah ada akhirnya. Selesai mobil, dia dijegal dengan pembangkit listrik, di sana sudah menunggu kasus sawah fiktif, sebelum itu, dia harus melewati terowongan kasus-kasus di kotanya: Pelepasan aset PT PWU perusahaan BUMD Pemprov Jatim, dll. Tak penting apapun kasusnya, asalkan bisa menjeratnya. Asalkan bisa membuat dia tidak aktif hingga Pilpres 2019 mendatang.
Kemarin, dia divonis 2 tahun penjara. Untuk kasus yang setiap orang Indonesia, asalkan balig dan berakal, tahu bahwa itu semata-mata penjegalan.
Melihat Pak Dahlan duduk dengan di kursi pesakitan dan mendengarkan vonis yang dijatuhkan kepadanya membuat saya memikirkan nasib setiap orang yang tulus di negeri ini. Dua tahun vonis. Setelah semua yang dilakukannya bagi negara ini, setelah semua iktikad baik, perjuangan, ketahanan untuk selalu berpihak kepada orang banyak dan kesepian pengorbanan, setelah semua tetes keringat, harta, curah pikiran dan nyawa, yang sedianya setahu saya bisa diberikannya kapan saja negeri ini meminta;. negaranya akhirnya memberinya imbalan berupa penderitaan di hari tuanya.
*(Randu, Radar Banjarmasin)*
Kamis, 20 Juli 2017
Postingan line 999 pepedulian antar sesama penghuni kost "MENINGGAL DI KAMAR KOS"
Reviewed by Esemka
Date 7/20/2017 09:46:00 AM
Label:
artikel
,
line999
,
umum
Postingan line 999 pepedulian antar sesama penghuni kost "MENINGGAL DI KAMAR KOS"
Lupa saya ini dari tulisan siapa
Copas dari wall nya: bu Lelitasari Danukusumo
Mahasiswi ITB Sartika Tio Silalahi (21 tahun) ditemukan meninggal di kamar kosnya, di Jl. Plesiran, Taman Sari, Bandung, Selasa (11/7/2017). Ia diperkirakan sudah meninggal tiga hari, karena mayatnya sudah berbau.
Sartika ini berasal dari Tarutung, Tapanuli Utara. Ia alumni berprestasi dari SMAN 1 Tarutung, angkatan 2013, sehingga bisa diterima di ITB. Ia mengambil program studi Perencanaan Wilayah dan Kota.
Awal ketahuan Sartika meninggal, orangtuanya menghubungi pengurus rumah kos, karena sudah tiga hari anaknya tidak ada kabar berita. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Pengurus kos pun meminta teman-teman kosnya, melalui chat grup, agar memerika kamar Sartika.
Sartika ditemukan sudah tak bernyawa. Kamar dalam keadaan rapi. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Berdasarkan informasi dari keluarga Sartika diketahui mengidap maag kronis.
Jenazah boru Sartika ini sudah dibawa pulang dan dimakamkan di Tarutung. Tapi ada hal yang perlu diketahui dan direnungkan secara serius dari peristiwa ini, terutama oleh orangtua atau keluarga yang anak-anaknya hidup kos di kota.
Suasana dan gaya hidup di tempat kos saat ini sudah sangat berbeda gaya hidup kos yang kita kenal ditahun 1980 atau 1990-an. Dulu, hidup satu kos itu seperti keluarga. Saling memperhatikan, saling berbagi makan, merasa senasib, dan saling tolong. Satu orang sakit, bisa-bisa yang antar berobat 5 atau 6 orang.
Sekarang ini, gaya hidup di tempat kos, terutama di tempat-tempat kos bagus di kota-kota besar, orang hidup sendiri-sendiri. Masing-masing hidup di kamar, berteman dengan gadget dan internetnya. Merasa tidak enak mencampuri urusan, atau mengganggu teman kos lain.
Lihatlah peristiwa yang menimpa Sartika ini. Kalau orangtuanya tidak menelepon pengurus kos dari Tarutung, sang pengurus kos tidak tahu apa yang terjadi. Itu pun, pengurus kos tidak langsung datang. Ia menghubungi penghuni kos lain lewat chat LINE, agar mencek kamar Sartika. Gemblung sekali rasanya, teman-teman kosnya itu sama sekali tidak memperhatikan Sartika sudah tidak kelihatan 3 hari.
Mahasiswa, anak-anak muda yang hidup kos di kota, sebenarnya kehilangan sesuatu. Kehilangan suasana dan perhatian keluarga. Ada rasa sepi, tidak bisa berbicara, atau curhat kepada keluarga.
Karena itu, ketika berada di rantau, sebenarnya justru sangat butuh teman, sahabat, dan lingkungan yang bisa mengisi kekosongan itu. Logisnya, teman-teman koslah yang mengisi kekosongan itu. Jangan lupa, di kampus sendiri si anak juga mungkin memiliki persoalan-persoalan yang menguras pikiran.
Seorang teman dari daerah cerita ke saya, ketika mengunjungi putrinya yang kuliah di UI, merasa heran setelah tinggal di Depok putrinya kelihatan cepat tua dan lelah. Putrinya itu sempat kuliah setahun di Bandung, dan katanya kelihatan happy-happy saja. Di Depok, putrinya tinggal di sebuah rumah kos besar, berlantai 3, mirip sebuah hotel.
Saya menduga, putrinya kehilangan suasana sosial karena kehidupan kos yang individual seperti cerita di atas. Belakangan juga ketahuan, si putri agak stress karena mengalami persoalan dengan kuliah. Beberapa dosen seperti memusuhinya karena beda agama. Tidak pernah dapat nilai bagus, meski sudah berusaha setengah mati. Nah, kan.
Satu hal, suasana individual ini juga yang kemudian sering melahirkan kondisi lain yang tak kalah buruk. Karena butuh teman, umumnya anak muda mencari pacar. Hubungan dengan pacar bisa jadi kelewat batas, karena tetangga kos tidak peduli apa yang dilakukan teman-teman kos di kamarnya. Pengurus kos juga tidak peduli, asalkan bayaran lancar.
Itu yang saya bilang, perlu mendapat perhatian dari para orangtua. Perlu juga ikut mencari tempat kos buat putra-putrinya. Suasana rumah kosnya seperti apa. Pemilik rumah kos seperti apa. Kira-kira temannya bisa bergaul dengan siapa. Apakah ada teman satu daerah, satu marga, anak kenalaan, kira-kira dia bisa bergereja dimana, dan sebagainya.
Maaf, orangtua juga sering sama egois. Dia merasa punya uang, mencari tempat kos yang mahal, yang fasilitasnya lengkap, agar orang melihat anaknya itu anak orang mampu, tidak butuh orang lain. Jangan macam-macam sama anakku. Kurang lebih, begitu. Tanpa sadar, itu sebenarnya menjerumuskan si anak ke kesepian yang dalam, meski hidupnya tampak enak.
Bayangkan, si anak sakit, tapi sampai nggak berani memberitahu atau minta tolong temannya ngantar ke dokter seperti boru Sartika di atas. Miris...ironis.
Read More
Copas dari wall nya: bu Lelitasari Danukusumo
Mahasiswi ITB Sartika Tio Silalahi (21 tahun) ditemukan meninggal di kamar kosnya, di Jl. Plesiran, Taman Sari, Bandung, Selasa (11/7/2017). Ia diperkirakan sudah meninggal tiga hari, karena mayatnya sudah berbau.
Sartika ini berasal dari Tarutung, Tapanuli Utara. Ia alumni berprestasi dari SMAN 1 Tarutung, angkatan 2013, sehingga bisa diterima di ITB. Ia mengambil program studi Perencanaan Wilayah dan Kota.
Awal ketahuan Sartika meninggal, orangtuanya menghubungi pengurus rumah kos, karena sudah tiga hari anaknya tidak ada kabar berita. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Pengurus kos pun meminta teman-teman kosnya, melalui chat grup, agar memerika kamar Sartika.
Sartika ditemukan sudah tak bernyawa. Kamar dalam keadaan rapi. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Berdasarkan informasi dari keluarga Sartika diketahui mengidap maag kronis.
Jenazah boru Sartika ini sudah dibawa pulang dan dimakamkan di Tarutung. Tapi ada hal yang perlu diketahui dan direnungkan secara serius dari peristiwa ini, terutama oleh orangtua atau keluarga yang anak-anaknya hidup kos di kota.
Suasana dan gaya hidup di tempat kos saat ini sudah sangat berbeda gaya hidup kos yang kita kenal ditahun 1980 atau 1990-an. Dulu, hidup satu kos itu seperti keluarga. Saling memperhatikan, saling berbagi makan, merasa senasib, dan saling tolong. Satu orang sakit, bisa-bisa yang antar berobat 5 atau 6 orang.
Sekarang ini, gaya hidup di tempat kos, terutama di tempat-tempat kos bagus di kota-kota besar, orang hidup sendiri-sendiri. Masing-masing hidup di kamar, berteman dengan gadget dan internetnya. Merasa tidak enak mencampuri urusan, atau mengganggu teman kos lain.
Lihatlah peristiwa yang menimpa Sartika ini. Kalau orangtuanya tidak menelepon pengurus kos dari Tarutung, sang pengurus kos tidak tahu apa yang terjadi. Itu pun, pengurus kos tidak langsung datang. Ia menghubungi penghuni kos lain lewat chat LINE, agar mencek kamar Sartika. Gemblung sekali rasanya, teman-teman kosnya itu sama sekali tidak memperhatikan Sartika sudah tidak kelihatan 3 hari.
Mahasiswa, anak-anak muda yang hidup kos di kota, sebenarnya kehilangan sesuatu. Kehilangan suasana dan perhatian keluarga. Ada rasa sepi, tidak bisa berbicara, atau curhat kepada keluarga.
Karena itu, ketika berada di rantau, sebenarnya justru sangat butuh teman, sahabat, dan lingkungan yang bisa mengisi kekosongan itu. Logisnya, teman-teman koslah yang mengisi kekosongan itu. Jangan lupa, di kampus sendiri si anak juga mungkin memiliki persoalan-persoalan yang menguras pikiran.
Seorang teman dari daerah cerita ke saya, ketika mengunjungi putrinya yang kuliah di UI, merasa heran setelah tinggal di Depok putrinya kelihatan cepat tua dan lelah. Putrinya itu sempat kuliah setahun di Bandung, dan katanya kelihatan happy-happy saja. Di Depok, putrinya tinggal di sebuah rumah kos besar, berlantai 3, mirip sebuah hotel.
Saya menduga, putrinya kehilangan suasana sosial karena kehidupan kos yang individual seperti cerita di atas. Belakangan juga ketahuan, si putri agak stress karena mengalami persoalan dengan kuliah. Beberapa dosen seperti memusuhinya karena beda agama. Tidak pernah dapat nilai bagus, meski sudah berusaha setengah mati. Nah, kan.
Satu hal, suasana individual ini juga yang kemudian sering melahirkan kondisi lain yang tak kalah buruk. Karena butuh teman, umumnya anak muda mencari pacar. Hubungan dengan pacar bisa jadi kelewat batas, karena tetangga kos tidak peduli apa yang dilakukan teman-teman kos di kamarnya. Pengurus kos juga tidak peduli, asalkan bayaran lancar.
Itu yang saya bilang, perlu mendapat perhatian dari para orangtua. Perlu juga ikut mencari tempat kos buat putra-putrinya. Suasana rumah kosnya seperti apa. Pemilik rumah kos seperti apa. Kira-kira temannya bisa bergaul dengan siapa. Apakah ada teman satu daerah, satu marga, anak kenalaan, kira-kira dia bisa bergereja dimana, dan sebagainya.
Maaf, orangtua juga sering sama egois. Dia merasa punya uang, mencari tempat kos yang mahal, yang fasilitasnya lengkap, agar orang melihat anaknya itu anak orang mampu, tidak butuh orang lain. Jangan macam-macam sama anakku. Kurang lebih, begitu. Tanpa sadar, itu sebenarnya menjerumuskan si anak ke kesepian yang dalam, meski hidupnya tampak enak.
Bayangkan, si anak sakit, tapi sampai nggak berani memberitahu atau minta tolong temannya ngantar ke dokter seperti boru Sartika di atas. Miris...ironis.
Selasa, 04 Juli 2017
Postingan line 999+ #GantiMenteriSusi
Reviewed by Esemka
Date 7/04/2017 11:45:00 AM
Label:
artikel
,
line999
,
umum
Postingan line 999+ #GantiMenteriSusi
Udah sejak zaman bapak BJ. Habibie, banyak orang pintar dan berkualitas di Indonesia tidak dihargai dan cenderung disingkirkan dari negerinya sendiri, dan kebanyakan dari mereka justru sangat dihargai di negara lain karena begitu besarnya jasa dan kontribusi bagi kemajuan negara tersebut.
Jadi ya gak usah heran jika "wkwk land" tercinta ini selalu ketinggalan dari negara lain bahkan di kawasan ASEAN sendiri.
Hal ini juga yang sekarang ini dialami oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Baru" ini di jagat twitter muncul hashtag #GantiMenteriSusi, tidak cukup di twitter, sejumlah massa nelayan juga ikut menggruduk Istana dengan tuntutan yang sama.
Kebijakan pelarangan penggunaan cantrang dijadikan "kambing hitam" untuk menuntut Menteri Susi diganti. Isu cantrang ini cuma sebatas cover untuk menutupi inti masalah yang berada di kedalaman.
Udah bukan rahasia lagi kebijakan yang dikeluarkan Menteri Susi selama 2,5 tahun masa jabatannya membuat pelaku illegal fishing, kartel dan juga mafia merugi dengan digit nominal yang banyak karena tidak ada lagi ruang gerak bagi mereka untuk merampok kekayaan alam Indonesia, ditambah lagi banyaknya kapal yang ditenggelamkan, semakin membuat mereka sakit hati dan susah tidur karena dihantui wajah Menteri Susi didalam mimpi. Jadi gak heran jika mereka bersatu padu untuk melengserkan Menteri Susi dari kursi jabatannya. Bahkan iming" 5 triliun rupiah sempat ditawarkan pada Menteri lulusan SMP tersebut agar mau resign dari jabatannya.
Tapi apadaya ternyata Rp 5T gak bisa "membeli" Menteri Susi, justru Menteri Susi semakin galak dan beringas dalam memberantas para penjahat di lautan "wkwk land" ini. Emang Presiden Jokowi gak salah pilih Menteri nih.
Mau ngelempar isu SARA yang paling laku dipasaran juga gak bisa, karena Menteri Susi tidak memiliki celah yang bisa dimanfaatkan untuk membakar kaum sumbu pendek, isu PKI apalagi. Makin pusing lah para komplotan ini dibuatnya sambil ngebayangin gak bisa tidur sampe 2,5 tahun mendatang.
Ya akhirnya mereka mencoba peruntungan lah dengan isu pelarangan cantrang dengan harapan bisa membuat Menteri Susi diganti. Bayangin aja, modal 5T untuk ngumpulin massa yang ngaku" sebagai nelayan bukan hal yang sulit lagi, apalagi dengan diimingi nasi padang lauk rendang plus ongkos jalan", semakin menarik banyak orang untuk ikut aksi, apalagi model ormas odong" fenghuni surga yang tidak perlu disebutkan namanya.
Lho kok odong"?
Iya kan mereka geraknya kalo udah ada yang masukin duit, mirip odong" di pasar malem.
Terlepas dari itu semua, saya rasa masyarakat Indonesia udah banyak belajar dan faham dengan model" provokasi seperti itu. Menteri Susi terlalu berharga untuk disingkirkan hanya karena isu murahan seperti itu, apalagi Menteri Susi juga telah memberikan solusi kepada para nelayan terkait peralihan alat tangkap cantrang dengan alat tangkap yang lebih ramah lingkungan. Semua ini beliau lakukan demi kesejahteraan dan kemajuan Indonesia khususnya di bidang maritim.
Saya rasa Presiden Jokowi juga sudah sangat faham dengan kelakuan para komplotan penjahat yang ingin mengganggu Pemerintahannya dan beliau juga pasti dapat berfikir jernih untuk mempertahankan Menteri Kelautan yang sudah mentorehkan banyak prestasi di kabinetnya tersebut. Terlebih maritim merupakan salah satu program prioritas dalam masa Pemerintahannya. Bukan begitu pak Presiden?
"Yak betul, sana ambil sepedanya.."
#StandForSusi #berantasmafiadankartel #tenggelamkan
Read More
Jadi ya gak usah heran jika "wkwk land" tercinta ini selalu ketinggalan dari negara lain bahkan di kawasan ASEAN sendiri.
Hal ini juga yang sekarang ini dialami oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Baru" ini di jagat twitter muncul hashtag #GantiMenteriSusi, tidak cukup di twitter, sejumlah massa nelayan juga ikut menggruduk Istana dengan tuntutan yang sama.
Kebijakan pelarangan penggunaan cantrang dijadikan "kambing hitam" untuk menuntut Menteri Susi diganti. Isu cantrang ini cuma sebatas cover untuk menutupi inti masalah yang berada di kedalaman.
Udah bukan rahasia lagi kebijakan yang dikeluarkan Menteri Susi selama 2,5 tahun masa jabatannya membuat pelaku illegal fishing, kartel dan juga mafia merugi dengan digit nominal yang banyak karena tidak ada lagi ruang gerak bagi mereka untuk merampok kekayaan alam Indonesia, ditambah lagi banyaknya kapal yang ditenggelamkan, semakin membuat mereka sakit hati dan susah tidur karena dihantui wajah Menteri Susi didalam mimpi. Jadi gak heran jika mereka bersatu padu untuk melengserkan Menteri Susi dari kursi jabatannya. Bahkan iming" 5 triliun rupiah sempat ditawarkan pada Menteri lulusan SMP tersebut agar mau resign dari jabatannya.
Tapi apadaya ternyata Rp 5T gak bisa "membeli" Menteri Susi, justru Menteri Susi semakin galak dan beringas dalam memberantas para penjahat di lautan "wkwk land" ini. Emang Presiden Jokowi gak salah pilih Menteri nih.
Mau ngelempar isu SARA yang paling laku dipasaran juga gak bisa, karena Menteri Susi tidak memiliki celah yang bisa dimanfaatkan untuk membakar kaum sumbu pendek, isu PKI apalagi. Makin pusing lah para komplotan ini dibuatnya sambil ngebayangin gak bisa tidur sampe 2,5 tahun mendatang.
Ya akhirnya mereka mencoba peruntungan lah dengan isu pelarangan cantrang dengan harapan bisa membuat Menteri Susi diganti. Bayangin aja, modal 5T untuk ngumpulin massa yang ngaku" sebagai nelayan bukan hal yang sulit lagi, apalagi dengan diimingi nasi padang lauk rendang plus ongkos jalan", semakin menarik banyak orang untuk ikut aksi, apalagi model ormas odong" fenghuni surga yang tidak perlu disebutkan namanya.
Lho kok odong"?
Iya kan mereka geraknya kalo udah ada yang masukin duit, mirip odong" di pasar malem.
Terlepas dari itu semua, saya rasa masyarakat Indonesia udah banyak belajar dan faham dengan model" provokasi seperti itu. Menteri Susi terlalu berharga untuk disingkirkan hanya karena isu murahan seperti itu, apalagi Menteri Susi juga telah memberikan solusi kepada para nelayan terkait peralihan alat tangkap cantrang dengan alat tangkap yang lebih ramah lingkungan. Semua ini beliau lakukan demi kesejahteraan dan kemajuan Indonesia khususnya di bidang maritim.
Saya rasa Presiden Jokowi juga sudah sangat faham dengan kelakuan para komplotan penjahat yang ingin mengganggu Pemerintahannya dan beliau juga pasti dapat berfikir jernih untuk mempertahankan Menteri Kelautan yang sudah mentorehkan banyak prestasi di kabinetnya tersebut. Terlebih maritim merupakan salah satu program prioritas dalam masa Pemerintahannya. Bukan begitu pak Presiden?
"Yak betul, sana ambil sepedanya.."
#StandForSusi #berantasmafiadankartel #tenggelamkan
Selasa, 13 Juni 2017
Postingan line 999 "Motivasi bersedekah dari seorang anak sd"
Reviewed by Esemka
Date 6/13/2017 09:54:00 AM
Label:
agama
,
artikel
,
line999
,
umum
Postingan line 999 "Motivasi bersedekah dari seorang anak sd"
Merinding
Itu.. serius anak SD?
Kok bisa.. 😢😢
Sesudah jumatan aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.
Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik.
Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya. Tak lama kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.
Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.
“Berapa harganya Nek?”
“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek.
Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata :
“Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”
Si nenek jelas sekali terlihat berbinar2 matanya :
“Ya Allah terima ksh bnyk Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya utk beli obat cucu yg lagi sakit.” Si nenek langsung jalan.
Refleks aku panggil anak lelaki itu.
“Siapa namamu ? Kelas berapa?”
“Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan.
“Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'”
” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”
“Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik.
“Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu berbicara dengan fasihnya.
Aku pegang bahu anak itu :
” Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?”
“Ketika saya masih TK, pak”
Tak terasa air mataku menetes :
“Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya.
Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata :
“Terima kasih banyak, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan… Tapi bapa punya keluarga…. Saya pamit balik ke kelas Pak”.
Radit menyalami tanganku dan menciumnya.
“Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.
Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya.
Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya. Kasir menjawab : ” Empat puluh ribu rupiah..”
Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya yang bayar… Kembaliannya berikan kepada si nenek ini..”
“Ya Allah.. Pak…”
Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik… Aku bergegas menuju Pandeglang menyusul teman-teman yang sedang keliling dakwah disana.
Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah.
Sahabat ada kalanya seorang ank lebih jujur dri pada orang dewasa,ajrkan lah ank2 kita dri dini tindakan nyata yg bukan teori semata.
Kisah ini dari hamba Allah.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D
Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
Read More
Itu.. serius anak SD?
Kok bisa.. 😢😢
Sesudah jumatan aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.
Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik.
Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya. Tak lama kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.
Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.
“Berapa harganya Nek?”
“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek.
Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata :
“Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”
Si nenek jelas sekali terlihat berbinar2 matanya :
“Ya Allah terima ksh bnyk Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya utk beli obat cucu yg lagi sakit.” Si nenek langsung jalan.
Refleks aku panggil anak lelaki itu.
“Siapa namamu ? Kelas berapa?”
“Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan.
“Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'”
” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”
“Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik.
“Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu berbicara dengan fasihnya.
Aku pegang bahu anak itu :
” Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?”
“Ketika saya masih TK, pak”
Tak terasa air mataku menetes :
“Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya.
Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata :
“Terima kasih banyak, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan… Tapi bapa punya keluarga…. Saya pamit balik ke kelas Pak”.
Radit menyalami tanganku dan menciumnya.
“Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.
Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya.
Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya. Kasir menjawab : ” Empat puluh ribu rupiah..”
Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya yang bayar… Kembaliannya berikan kepada si nenek ini..”
“Ya Allah.. Pak…”
Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik… Aku bergegas menuju Pandeglang menyusul teman-teman yang sedang keliling dakwah disana.
Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah.
Sahabat ada kalanya seorang ank lebih jujur dri pada orang dewasa,ajrkan lah ank2 kita dri dini tindakan nyata yg bukan teori semata.
Kisah ini dari hamba Allah.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D
Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
Senin, 08 Mei 2017
Postingan line 999 "Pengalaman dating lewat Tinder berujung promo Fidget Spinner"
Reviewed by Esemka
Date 5/08/2017 10:13:00 AM
Label:
artikel
,
line999
,
umum
Postingan line 999 "Pengalaman dating lewat Tinder berujung promo Fidget Spinner"
Pengen cerita dikit deh soal pengalaman dating lewat Tinder. Kali aja bisa jadi pelajaran buat semua soal online dating.
Jadi, akhir bulan lalu, gue dapet match sama cewek sebut saja Mawar. Ah biasa. Panggil aja Mengkudu.
Setelah beberapa kali chat, gue inisiatif dong ngajak doi untuk ngopi, sabtu sore lusa. Karena apalah arti chat tanpa ketemu langsung. Sedap. Mengkudu bilang oke. Dan dia minta dijemput di apartemennya di bilangan Jakarta.
Terus hari-H nih. Sabtu sore gue udah sampe di bawah apartemen. Bukan di parkiran. Bukan juga underground lo kira gue cacing. Di lobby apartemen deh. Nah, gue liat ada satpam dan gue tanya dong bener gak ada cewek namanya Mengkudu (gue nunjukin fotonya juga) tinggal di sini. Satpam konfirmasi ada. Gue langsung chat doi.
Gue: "Gue udah di bawah nih."
Doi bales: "Naek aja dulu, gue sendirian kok."
Wah. Kesempatan buat ena-ena. Rejeki solat subuh nih.
Kagak lah. Boro-boro kepikiran. Malah curiga ini. Takut masuk acara reality show TV gitu kan. Tapi ya udah lah ya. Naek lah gue.
Nyampe depan kamar gue ngetok. Magic. Ya pintu lah.
Mengkudu bukain pintu. Gue terdiam dan terpana. Mukanya cantik dan adem banget. Tuh muka apa pohon Trembesi. Lebih cantik dari foto di Tinder.
Lalu kami saling sapa. Gue dipersilakan masuk.
Pas masuk gue kaget. Mengkudu bohong. Di dalem ternyata ada seekor cowok. Mukanya kayak vampir udah sewindu gak minum darah. Mukanya pucet, lesu, lunglai. Lagi duduk di deket meja yang penuh botol ijo (bukan Equil) dan bertebaran bubuk putih.
Wah apaan neh? Kok banyak tepung?
JENG JENG..
Setelah chit chat sedikit, gue udah mulai khawatir dan takut. Takut tiba-tiba digrebek BNN karena ketauan maen tepung.
Akhirnya gue memutuskan untuk cabut. Dengan keberanian yang udah terkumpul (untuk kabur), gue bilang ke Mengkudu, "Aduh gue lupa nih Spinner gue ketinggalan sama Abang Uber! Gue turun dulu yah"
Padahal gue bohong. Orang gue gak bawa Spinner.
Hah? Apa? Lo belum punya fidget spinner? Alig alig alig. Daripada ketinggalan mending beli deh sekarang.
Hah? Gak tau mau belinya gimana? Bingung cari dimana? Kalo bingung, bergegaslah pesen lewat @*********. Dapet diskon lagi kalo beli banyakan.
Cus kontak aja lewat LINE: @********* (jangan lupa pake @-nya tuh) atau Instagramnya di @fotongroup. Tinggal tanya mau spinner kayak gimana terus tinggal beli deh. Karena apapun ceritanya, maenannya ya tetep fidget spinner. Belinya ya di @*********aja!
LINE: line://ti/p/@*********
Testi: https://instagram.com/p/*********/
#endorse #promo
PS: Cerita pengalaman Tindernya terinspirasi dari tulisan Abang Tirta @romeogadungan di bukunya Romeo Gadungan. Makasih buat inspirasi tulisannya Bang!
Read More
Jadi, akhir bulan lalu, gue dapet match sama cewek sebut saja Mawar. Ah biasa. Panggil aja Mengkudu.
Setelah beberapa kali chat, gue inisiatif dong ngajak doi untuk ngopi, sabtu sore lusa. Karena apalah arti chat tanpa ketemu langsung. Sedap. Mengkudu bilang oke. Dan dia minta dijemput di apartemennya di bilangan Jakarta.
Terus hari-H nih. Sabtu sore gue udah sampe di bawah apartemen. Bukan di parkiran. Bukan juga underground lo kira gue cacing. Di lobby apartemen deh. Nah, gue liat ada satpam dan gue tanya dong bener gak ada cewek namanya Mengkudu (gue nunjukin fotonya juga) tinggal di sini. Satpam konfirmasi ada. Gue langsung chat doi.
Gue: "Gue udah di bawah nih."
Doi bales: "Naek aja dulu, gue sendirian kok."
Wah. Kesempatan buat ena-ena. Rejeki solat subuh nih.
Kagak lah. Boro-boro kepikiran. Malah curiga ini. Takut masuk acara reality show TV gitu kan. Tapi ya udah lah ya. Naek lah gue.
Nyampe depan kamar gue ngetok. Magic. Ya pintu lah.
Mengkudu bukain pintu. Gue terdiam dan terpana. Mukanya cantik dan adem banget. Tuh muka apa pohon Trembesi. Lebih cantik dari foto di Tinder.
Lalu kami saling sapa. Gue dipersilakan masuk.
Pas masuk gue kaget. Mengkudu bohong. Di dalem ternyata ada seekor cowok. Mukanya kayak vampir udah sewindu gak minum darah. Mukanya pucet, lesu, lunglai. Lagi duduk di deket meja yang penuh botol ijo (bukan Equil) dan bertebaran bubuk putih.
Wah apaan neh? Kok banyak tepung?
JENG JENG..
Setelah chit chat sedikit, gue udah mulai khawatir dan takut. Takut tiba-tiba digrebek BNN karena ketauan maen tepung.
Akhirnya gue memutuskan untuk cabut. Dengan keberanian yang udah terkumpul (untuk kabur), gue bilang ke Mengkudu, "Aduh gue lupa nih Spinner gue ketinggalan sama Abang Uber! Gue turun dulu yah"
Padahal gue bohong. Orang gue gak bawa Spinner.
Hah? Apa? Lo belum punya fidget spinner? Alig alig alig. Daripada ketinggalan mending beli deh sekarang.
Hah? Gak tau mau belinya gimana? Bingung cari dimana? Kalo bingung, bergegaslah pesen lewat @*********. Dapet diskon lagi kalo beli banyakan.
Cus kontak aja lewat LINE: @********* (jangan lupa pake @-nya tuh) atau Instagramnya di @fotongroup. Tinggal tanya mau spinner kayak gimana terus tinggal beli deh. Karena apapun ceritanya, maenannya ya tetep fidget spinner. Belinya ya di @*********aja!
LINE: line://ti/p/@*********
Testi: https://instagram.com/p/*********/
#endorse #promo
PS: Cerita pengalaman Tindernya terinspirasi dari tulisan Abang Tirta @romeogadungan di bukunya Romeo Gadungan. Makasih buat inspirasi tulisannya Bang!
Kamis, 27 April 2017
Postingan line 999 Tulisan ini untuk seseorang yang hebat, tapi merasa biasa aja karena melihat orang lain yang katanya 'lebih hebat'
Reviewed by Esemka
Date 4/27/2017 06:59:00 PM
Label:
artikel
,
line999
,
umum
Postingan line 999 Tulisan ini untuk seseorang yang hebat, tapi merasa biasa aja karena melihat orang lain yang katanya 'lebih hebat'
Farah Husnika F
"Keren ya si A, relasinya luas banget. kayaknya setiap orang kenal dia deh"
"Ingin deh kayak si B, aktif dimana-mana. Ada aja kesibukannya rapat ini itu, pasti banyak manfaatnya buat orang lain"
"Kok aku gabisa kayak dia ya, lancar banget ngomong didepan umum"
"Akumah apalah, gini-gini aja dari dulu"
Ada orang yang
selalu ingin ini itu. Jadi seperti A yang begini, si B yang begitu. Melihat setiap orang lebih baik dari dirinya. Ada baiknya sih, jadi ingin terus memperbaiki diri. Tapi kadang repot juga jadi orang kayak gini. Jadinya gak bersyukur, jadinya rendah diri, jadinya iri.
Apakah tujuan hidup ini adalah untuk jadi seperti A, B, C,....Z ?
Bagaimanapun, kamu adalah kamu. Setiap kita adalah makhluk sempurna yang dibekali akal pikiran. Setiap kita punya kelebihan dan kekurangan. Dan soal manusia terbaik.. bukannya yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ?
Tapi kadang, kita hanya fokus pada kekurangan sendiri, dan kelebihan orang lain. Akhirnya gak maju. Gini-gini aja. Gak liat potensi sendiri, malah berusaha jadi orang lain. Akhirnya telat bermanfaat bagi orang lain.
Iya, punya beberapa 'tokoh teladan' memang perlu, biar kita selalu memperbaiki diri. Tapi jangan sampai lupa kitapun punya sisi-sisi teladan yang jadi kelebihan kita. Belum tentu orang lain punya.
Hm intinya ..Sibuk memperbaiki diri boleh, asal jangan sibuk menjadi orang lain :)
Semangat !
*Tulisan ini untuk seseorang yang hebat, tapi merasa biasa aja karena melihat orang lain yang katanya 'lebih hebat' hm semoga bermanfaat :)
#julyproject
Read More
"Keren ya si A, relasinya luas banget. kayaknya setiap orang kenal dia deh"
"Ingin deh kayak si B, aktif dimana-mana. Ada aja kesibukannya rapat ini itu, pasti banyak manfaatnya buat orang lain"
"Kok aku gabisa kayak dia ya, lancar banget ngomong didepan umum"
"Akumah apalah, gini-gini aja dari dulu"
Ada orang yang
selalu ingin ini itu. Jadi seperti A yang begini, si B yang begitu. Melihat setiap orang lebih baik dari dirinya. Ada baiknya sih, jadi ingin terus memperbaiki diri. Tapi kadang repot juga jadi orang kayak gini. Jadinya gak bersyukur, jadinya rendah diri, jadinya iri.
Apakah tujuan hidup ini adalah untuk jadi seperti A, B, C,....Z ?
Bagaimanapun, kamu adalah kamu. Setiap kita adalah makhluk sempurna yang dibekali akal pikiran. Setiap kita punya kelebihan dan kekurangan. Dan soal manusia terbaik.. bukannya yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ?
Tapi kadang, kita hanya fokus pada kekurangan sendiri, dan kelebihan orang lain. Akhirnya gak maju. Gini-gini aja. Gak liat potensi sendiri, malah berusaha jadi orang lain. Akhirnya telat bermanfaat bagi orang lain.
Iya, punya beberapa 'tokoh teladan' memang perlu, biar kita selalu memperbaiki diri. Tapi jangan sampai lupa kitapun punya sisi-sisi teladan yang jadi kelebihan kita. Belum tentu orang lain punya.
Hm intinya ..Sibuk memperbaiki diri boleh, asal jangan sibuk menjadi orang lain :)
Semangat !
*Tulisan ini untuk seseorang yang hebat, tapi merasa biasa aja karena melihat orang lain yang katanya 'lebih hebat' hm semoga bermanfaat :)
#julyproject
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





