Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 April 2017

Perbedaan Pengertian Trailer, Teaser, Clip, Featurette, TV-Spot dan Behind-the-Scenes Reviewed by Esemka Date 4/08/2017 03:53:00 PM

Perbedaan Pengertian Trailer, Teaser, Clip, Featurette, TV-Spot dan Behind-the-Scenes

Tidak ada komentar :

Perbedaan Trailer, Teaser, Clip, Featurette, TV-Spot dan Behind-the-Scenes



Trailer


Dalam dunia perfilman, trailer lebih sering diartikan sebagai bentuk promosi sebuah film yang akan tayang. Panjang sebuah video trailer lebih kurang 2-3 menit. Muncul pertama kali di tahun 1913 untuk mempromosikan film The Pleasure Seekers di Amerika Serikat. Trailer juga memuat plot inti cerita dalam film, termasuk pemeran, sutradara, produser, distributor dan waktu tayang film tersebut.

Trailer film ini booming di pertengahan 1990-an, ketika internet mulai mewabah di seluruh penjuru dunia. Bahkan saat ini, trailer film melalui video di internet seakan sudah menjadi media promosi paling efektif dalam promosi sebuah film. Beberapa produser film blockbuster merilis video trailer film mereka setahun sebelum waktu tayangnya di bioskop.

Contoh trailer https://www.youtube.com/watch?v=3cxixDgHUYw


Teaser


Teaser dalam bahasa Indonesia berarti 'penggoda'. Teaser memang dirilis dengan tujuan untuk menggoda atau membuat orang bertanya-tanya atau penasaran atas sebuah film. Dengan durasi lebih kurang 1 menit, teaser lebih memuat cuplikan-cuplikan adegan dalam sebuah film dan minim keterangan tentang film tersebut. Teaser film juga dirilis sebelum trailer film dan dibuat untuk promosi awal mengenalkan sebuah film yang akan tayang dengan tujuan untuk bahan perbincangan masyarakat.

Contoh teaser https://www.youtube.com/watch?v=KEDdFRBR_To


Clip


Lebih pendek dari teaser, clip lebih ditujukan untuk fokus ke adegan-adegan inti sebuah film. Walau dengan durasi antara 30 detik sampai 1 menit, clip dibuat secara singkat, padat, jelas dan mengena kepada calon penonton.

Contoh video movie-clip https://www.youtube.com/watch?v=MKyp9Tx-NPY


Featurette 

Beberapa fitur dalam film akan dimunculkan di sini. Featurette lebih diartikan sebagai cuplikan yang ada dalam film dan dibuat untuk membahas beberapa adegan dalam sebuah trailer bersama pemeran dalam film tersebut. Beberapa featurette juga dijadikan fitur tambahan dalam kepingan DVD film tersebut. Featurette biasanya dimunculkan setelah trailer sebuah film dirilis. Durasi featurette biasanya 3 menit.

Contoh featurette https://www.youtube.com/watch?v=3xo-nXwHgKQ

 TV-Spot 

Sesuai sebuatannya, video TV-spot untuk cuplikan film memang ditujukan untuk promosi di media televisi. Singkat dengan durasi yang berkisar 20-30 detik, TV-spot seakan dibuat dalam konteks yang padat, mudah dimengerti dan harus merangkum keseluruhan isi film yang akan tayang tersebut, dengan harapan mengena langsung kepada calon penonton secara umum.

Contoh TV-spot https://www.youtube.com/watch?v=s-AfXNDIq5U

 Behind-the-Scenes


Behind-the-Scenes adalah potongan video yang menampilkan cuplikan proses pembuatan sebuah film. Behind-the-Scenes biasanya dipandu oleh sutradara, produser dan pemain dalam film tersebut. Durasinya hampir sama dengan trailer sebuah film, 2-3 menit. (jfb)

Contoh video Behind-the-Scenes https://www.youtube.com/watch?v=_lRxdkzvjLo

Read More

Selasa, 04 April 2017

Analisis Film Top Secret: Wai Roon Pan Lan a.k.a The Billioner Reviewed by Esemka Date 4/04/2017 06:16:00 AM

Analisis Film Top Secret: Wai Roon Pan Lan a.k.a The Billioner

Tidak ada komentar :
Analisis Film
Top Secret: Wai Roon Pan Lan










Fathurrahman Maulana S

NIM. 1455428









INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) BANDUNG
PRODI TELEVISI DAN FILM
2015




Top Secret: Wai Roon Pan Lan
(The Billioner)


Directed by    Songyos Sugmakanan
Starring          Pachara Chirathivat, Somboonsuk Niyomsiri, Walanlak Kumsuwan
Production     GMM Tai Hub
Release dates 20 October 2011
Country          Thailand
Language        Thai

Film Billionaire adalah salah satu film yang sangat menginspirasi. Film ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang awalnya pecandu game online yang keluarganya terlilit hutang sangat banyak berubah menjadi pengusaha rumput laut terkenal di Thailand dan mungkin di puluhan Negara lainnya. Film ini diangkat dari kisah nyata seseorang yang bernama Top Ittipat yang diperankan oleh Peach Pachara Chirathivat.
Awal cerita dimulai pada saat Top Ittipad masih duduk di bangku SMA pada tahun 2004 dan masih gemar bermain game online dan menghasilkan banyak uang dari game tersebut dari penjualan senjata-senjata di game tersebut. Uang yang didapatkan begitu banyak hingga bisa beli mobil dan hal-hal yang diinginkan seperti Play Station 2, kehidupan top bisa dibilang boros. Karena kegemaran dengan game online, dia hingga lupa diri untuk belajar sehingga tidak masuk ke perguruan tinggi negeri sehingga harus masuk universitas swasta. Di sisi lain orang tua Top sedang mengalami masalah finansial dan terlilit hutang sangat banyak namun masih berusaha untuk membiayai biaya Top kuliah tetapi Top menolak. Akhirnya dia bisa kuliah tapi dengan mencuri jimat milik ayahnya dan digadaikan.
Selama perkuliahan, Top seperti tidak tertarik dengan kuliah karena di kepalanya hanya terpikirkan bagaimana caranya mencari uang dan menebus jimat milik ayahnya. Suatu ketika, Top berjalan-jalan ke sebuah pameran dan melihat ada sebuah alat untuk menggoreng kacang kemudian terpikir untuk berjualan kacang. Top lalu menyewa alat tersebut dengan harga 10.000 bath perbulan, di sini keberanian Top terlihat. Kemudian dia membuka toko kacang di Mall, di sini perjuangan Top dimulai. Untuk dapat membuat kacang yang enak, dia bertanya kepada tukang kacang di jalanan bagaimana caranya membuat kacang yang enak. Namun, walaupun dia berhasil membuat kacang yang enak, dagangan tetap tidak laku sehingga membuat Top sedikit frustasi dan mencoba beberapa cara agar tidak laku. Suatu ketika Top berjalan ke sebuah pasar tradisional dan mendapatkan beberapa inspirasi seperti memberikan diskon dan lokasi sangat menentukan bisnis.
Kemudian Top bersikeras meminta pindah tempat ke bagian depan Mall dan terlihat bahwa kacang goreng semakin laku keras kemudian ia membuka beberapa cabang, namun usaha tersebut tersendat dikarenakan mesin pembuat kacang goreng tersebut menimbulkan asap dan mengotori atap Mall sehingga harus tutup. Setelah itu dia mendapatkan inspirasi untuk membuat rumput laut goreng dan ia membeli beberapa rumput laut namun basi dalam waktu 1 minggu, ini membuatnya bertanya-tanya dan mendatangi professor dibidang pangan untuk menyelesaikan masalah ini. Profesor tersebut berhasil membantu Top membuat makanan agar tidak mudah basi dengan membuat vakum kemasan dan mengganti dengan nitrogen. Kemudian tantangan berikutnya adalah Top tidak bisa membuat rumput laut yang enak karena setelah digoreng rasanya pahit. Dia dan pamannya menghabiskan lebih dari 100.000 bath (28 juta) untuk uji coba rumput laut tapi gagal, sampai semua rumput lautnya habis.
Kini Top telah berusia 26 tahun dan ia telah mengekspor produknya ke 27 negara dan Ia memiliki perkebunan rumput laut sendiri di Korea Selatan. Ia telah membuktikan bahwa seseorang yang mungkin dianggap tidak berharga, namun dengan usaha dan kerja keras, maka suatu saat dapat menjadi lebih berharga dari apa yang orang lain pikirkan.
Konflik keluarga yang terjadi dalam konteks  hubungan orang tua-anak ini mewarnai jalan cerita dalam film “ini. Pada dasarnya, konflik ini muncul akibat ketidaksamaan harapan orang tua dengan keinginan sang anak, Top Ittipat. Sering kali terjadi perbedaan pendapat atau bahkan cekcok kecil antara orang tua, khususnya sang ayah dengan anak ini. Hingga ada beberapa kali, sang anak, Top Ittipat, terkesan membentak sang ayah. Akibatnya, membuat sang ayah merasa “sedih” dan tidak ingin peduli lagi dengan sang anak. Namun, sang ibu tak ingin membiarkannya, sehingga muncullah lagi konflik personal antara suami-istri tentang anaknya. Sang ibu, yang memang dasarnya memiliki hati yang lembut, penyayang, dan lebih pengertian, mencoba membujuk sang ayah untuk tidak seperti itu terhadap anaknya.
Konflik percintaan sedikit mewarnai jalan cerita dalam film ini. Pada dasarnya konflik ini adalah konflik cinta yang sangat biasa antara Top Ittipat dan kekasihnya, Lin. Konflik ini dipicu oleh tuntutan Lin yang sebenarnya tidak sesuai pada sosok Top Ittipat sendiri. Hubungan mereka akhirnya harus diakhiri karena Lin tidak pernah mau mencoba mengerti dan menerima keinginan Top Ittipat. Top Ittipat lebih memilih focus pada bisnis yang dibangunnya dari pada masalah asmaranya. Hingga akirnya, Lin pun berpaling pada pria lain. Konflik percintaan ini tidak begitu ditonjolkan, hanya sekedar lewat saja. Ini sebenarnya kekurangan film ini, sepanjang cerita hanya berkutat pada tokoh Top Ittipat saja.  Konflik personal lainnya muncul dalam lingkungan hubungan personal antar tokoh. Salah satunya saat Top Ittipat merasa dirinya ditipu oleh penjual Playstation dengan menjual padanya 50 unit PS bajakan yang sudah rusak. Top Ittipat marah-marah di depan sang penjual, hingga memuncak dengan menjatuhkan salah satu PS yang dibelinya ke lemari kaca toko tersebut sampai pecah. Dan tamparan dari sang penjual pun tak terelakkan di pipi Top Ittipat.

Dalam film ini digambarkan bahwa tidak boleh terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan, dinalisis dulu baru bisa diambil sebuah keputusan yang baik. Karakter beberapa tokoh dalam film ini identik dengan berbagai simbol, dan bisa dikatakan film ini menggunakan simbolisasi yang merupakan cara sutradara mengidentikkan sesuatu peran dengan realitas dan karakteristik identitas simbol tersebut. Simbol dan perumpamaan yang muncul dalam film ini melekat pada beberapa karakter dan merepresentasikan identitas tokohnya. Makna yang muncul akan dianalisis dengan melihat makna denotatif dan konotatif yang muncul dan seperti apa representasinya pada beberapa tokoh yaitu Top Ittipat, sang paman/pembantu setia, dan orang tua beserta kekasih Top Ittipat.
Read More

Senin, 20 Maret 2017

Analisis Film Pasific Rim Reviewed by Esemka Date 3/20/2017 06:14:00 AM

Analisis Film Pasific Rim

Tidak ada komentar :
Analisis Film
Pasific Rim





 




Fathurrahman Maulana S

NIM. 1455428









INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) BANDUNG
PRODI TELEVISI DAN FILM
2015


 


Directed by    Guillermo del Toro
Produced by  Thomas Tull, Jon Jashni, Guillermo del Toro, Mary Parent
Screenplay by            Travis Beacham, Guillermo del Toro
Story by          Travis Beacham
Music by         Ramin Djawadi
Cinematography        Guillermo Navarro
Edited by        John Gilroy, Peter Amundson
Production     Legendary Pictures
DDY                 Distributed by Warner Bros. Pictures
Release dates July 12, 2013
Running time 132 minutes
Country          United States

Bumi kedatangan monster raksasa yang disebut dengan Kaiju dan muncul dari kedalaman laut pacific melalui lorong jalan tembus. Kaiju berasal dari bahasa Jepang yang berarti monster raksasa. Akibatnya adalah kehancuran dan porak poranda serta jatuhnya banyak korban manusia yang terjadi di berbagai kota dunia. Saat itu perlawanan masih menggunakan senjata dan bom biasa milik tentara sehingga dirasakan kurang sepadan dengan lawannya yang bertubuh besar. Untuk itu semua negara bersatu dengan membuat sebuah robot ukuran raksasa agar sepadan dalam melawan Kaiju. Robot itu diberi nama Jaeger yang berarti pemburu dalam bahasa Jerman.

Raleigh (Charlie Hunnam) dan Yancy adalah dua bersaudara yang mengendarai robot raksasa bernama Gipsy Danger. Jaeger harus dikendalikan oleh dua orang dan harus memiliki ikatan perasaan yang sama. Tentu saja mereka berdua pasangan yang cocok karena merupakan saudara kandung. Prestasi mereka cukup bagus dengan berhasil membunuh beberapa Kaiju sebelumnya sehingga mempopulerkan nama mereka. Tahun 2020, mereka mendapat tugas melawan Kaiju yang muncul pada dini hari. Sayangnya kali ini mereka gagal dan bahkan Yancy menjadi korban keganasan Kaiju. Tidak itu saja, pemerintah pusat membekukan proyek Jaeger yang dipimpin oleh Stacker (Idris Elba) dan proyek dipindahkan ke Hong Kong untuk sementara waktu.

Raleigh masih trauma akan tewasnya sang kakak dan selama 5 tahun mengasingkan diri ke suatu tempat dan bekerja sebagai pekerja bangunan konstruksi. Namun Stacker berhasil menemukannya dan membujuknya untuk kembali ke pasukan Jaeger. Stacker mempunyai misi yaitu melakukan pengeboman terhadap lorong jalan tembus sehingga Kaiju tidak bisa masuk lagi ke bumi. Masalahnya siapakah pasangannya sebagai pengganti kakaknya ? Untuk mendapatkan pasangannya maka diadakan seleksi oleh Mako (Rinko Kikuchi) seorang wanita yang jago berkelahi. Dia sendiri sebenarnya ingin menjadi pengendali Jaeger namun dilarang oleh Stacker. Pada saat seleksi, tidak ada calon yang dapat mengungguli Raleigh untuk itu Mako mencoba ikut seleksi itu dan berhasil mengalahkan Raleigh. Rupanya Stacker tidak senang karena dia punya alasan sendiri melarang Mako karena dianggap belum siap dan masih hijau. Tapi alasan sebenarnya adalah karena Mako adalah anak angkatnya yang disayanginya. Saat Mako kecil, keluarganya menjadi korban dari keganasan Kaiju dan dia sendiri nyaris menjadi korban, untung ada Stacker yang menolongnya.

Kemunculan Kaiju semakin lama semakin sering dan rupa-rupanya mereka bisa berevolusi dan memiliki senjata-senjata baru dalam melawan Jaeger. Evolusi yang terbaru disebut dengan Kaiju kategori 4. Ada yang bisa menyemprot dengan cairan asam, ada yang bisa mematikan energi listrik dan ada yang bisa terbang. Dua orang ilmuwan yaitu Geiszler dan Gottlieb dengan sifatnya masing-masing yang unik melakukan penelitian mengenai Kaiju. Mereka melakukan hubungan perasaan dengan otak Kaiju untuk mengetahui rahasianya. Untuk itu didapat bahwa Kaiju memiliki semacam kode untuk melewati lorong jalan tembus sehingga Jaeger tidak akan bisa melewati lorong tersebut.

Beberapa Jaeger telah kalah dan hanya tinggal dua Jaeger saja untuk melakukan pengeboman lorong jalan tembus. Kali ini lorong tersebut dijaga oleh Kaiju kategori 5 yang berarti lebih besar dan lebih kuat. Tentu saja tidak mudah untuk mengalahkannya namun pada akhirnya Jaeger yang bernama Gipsy Danger berhasil mengalahkan Kaiju dan meledakkan lorong tersebut. Semua pemain dapat memerankan dengan baik perannya masing-masing dan sesuai dengan apa yang diinginkan dalam ceritanya. Penampilan Mana Ashida sebagai Mako kecil bagus sekali dengan ekspresi wajahnya yang menyiratkan ketakutan luar biasa.

Jangan mengira bahwa hanya manusia yang melakukan penyelidikan di planet lain dan mengirim astronot-astronot ke bulan, Mars dan lain-lain. Ternyata makhluk asingpun melakukan hal yang sama terhadap bumi. Itulah inti dari film ini walaupun makhluk asing tersebut berwujud monster raksasa seukuran gedung-gedung bertingkat.

Special efek dibuat dengan cukup baik namun ada sedikit kelemahan yaitu Kaiju tidak pernah ditampilkan secara utuh dan mendetail. Kaiju juga tidak pernah muncul pada siang hari yang terang. Anda bisa bandingkan dengan film Jurasic Park yang menampilkan dinosaurus secara utuh dan detil sehingga bisa menikmati keindahan tubuhnya. Sedangkan Jaeger sendiri penampilannya masih satu step dibawah dibandingkan dengan robot-robot dalam film Tranformer.

Sutradara Guillermo Del Toro berhasil membuat sebuah tontonan yang menarik walaupun telah puasa selama 6 tahun tidak menjadi sutradara. Film ini merupakan film aksi fantasi futuristik yang penuh dengan adegan perkelahian dan pertarungan antara robot raksasa dan monster raksasa. Tidak hanya di laut tetapi juga di daratan yang tentu saja menghancurkan gedung-gedung tinggi dan semuanya. Kehebohannya tampak wah dan kolosal dan pasti akan membuat penonton puas. Kemungkinan besar akan dibuat seri berikutnya karena kesuksesan ini pasti akan membuat ngiler sang produser. Penulis merekomendasikan untuk menonton film ini sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan.


Read More

Selasa, 14 Februari 2017

Analisis Film Birdman Reviewed by Esemka Date 2/14/2017 06:34:00 AM

Analisis Film Birdman

Tidak ada komentar :
Analisis Film
Birdman












Fathurrahman Maulana S

NIM. 1455428









INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) BANDUNG
PRODI TELEVISI DAN FILM
2015


 


Sutradara                : Alejandro Gonzalez Inarritu
Produser                 : Alejandro Gonzalez Inarritu, Robert Graf, John Lesher
Penulis Naskah  : Nicolas Giacobone, Alexander Dinelaris, Alejandro Gonzalez Inarritu
Pemain                     : Michael Keaton, Emma Stone, Edward Norton, Naomi Watts, Amy        Ryan, Zach Galifianakis, Andrea Riseborough
Genre                       : Drama, Komedi
Tanggal Rilis           : 17 Oktober 2014
Studio                       : Fox Searchlight Pictures

Riggan Thomson (Michael Keaton) 20 tahun lalu adalah seorang superstar setelah sukses membintangi tokoh superhero Birdman, namun setelahnya karirnya meredup. Untuk menaikkan karir dan citranya kembali, ia kemudian memproduseri, menyutradarai dan membintangi sebuah drama Broadway.
Satu hal yang menjadi ciri khas Birdman yang kelak akan diperbincangkan sepanjang masa: teknik pengambilan gambar long-take yang dipilih Alejandro G. Iñárritu dalam mempresentasikan karyanya. Teknik long-take memang bukan yang pertama di dunia perfilman. Dengan dipilihnya teknik long-take, yang sangat sesuai dengan tema Birdman yang berkisah tentang dunia teater Broadway, maka ruang kesalahan dituntut sesempit mungkin. Alejandro G. Iñárritu, yang terpilih juga menjadi Best Director di ajang Academy Awards ke-87, mengemas Birdman sehingga seolah-olah menjadi sebuah film yang adegannya berjalan secara simultan tanpa terpotong. Selain bagian depan dan sedikit di bagian akhirnya, Birdman seolah-olah berjalan tanpa "cut", seperti diambil dalam satu kali pengambilan gambar padahal mungkin saja ada cut yang di selipkan misalkan di perpindahan gerak kamera yang cepat. Selain itu, Birdman, yang sinematografinya ditangani oleh Emmanuel Lubezki, menjalankan Birdman dalam gerakan yang begitu halus, dengan kamera yang lihai bergerak maju-mundur dan memutar, berjalan dalam gerakan kamera yang tampak mustahil. Dan didukung backsound musik jazz solo drum yang awkward dari Antonio Sanchez, melengkapi Birdman sebagai tontonan yang juga berseni tinggi.

Birdman adalah sebuah black-comedy, namun harus diakui bahwa level komedinya agak tinggi. Sedikit banyak menuntut kita untuk memahami lebih jauh tentang dunia industri film (sebagai contoh ketika Riggan menyebut nama-nama Michael Fassbender hingga George Clooney, humor mengenai konteks film superhero lainnya. Seperti sebutan "super-realism" yang disematkan kritikus Tabitha Dickinson pada pertunjukan milik Riggan, Birdman juga bisa disebut dengan hal yang sama, bagaimana Birdman bisa menyelaraskan real-life dan cerita dalam film. Birdman juga akan mengajakmu mengetahui dunia di balik panggung Hollywood dan Broadway, dengan permasalahan yang menyertainya : kritikus teater yang rese', perbedaan antara komersil dan seni, hingga eksistensi diri dan popularitas seorang selebriti. Harus diakui kesuksesan Birdman menjadi sebuah komedi-satir yang berhasil adalah berkat Michael Keaton sebagai Riggan Thomson dan Edward Norton sebagai Mike Shiner, dimana keduanya memiliki karakter yang hampir sama seperti diri mereka di dunia nyata.

Salah satu keunggulan lainnya adalah Birdman begitu solid dari jajaran para aktor dan aktrisnya. Apalagi Birdman dishoot dalam pengambilan gambar yang cukup panjang, sehingga sulit untuk tidak melakukan kesalahan. Sulit dipercaya bahwa banyak orang yang mengatakan bahwa para pemeran di Birdman terlalu over-acting, namun bukankah ini black comedy mengenai dunia teater, sehingga yang mereka sebut "overacting" itu sesungguhnya sangat sesuai dalam konteks film ini sendiri. Namun jelas Birdman adalah panggung bagi Michael Keaton - yang mampu memberikan aura melas sekaligus keras kepala, menampilkan salah satu performa terbaiknya sebagai Riggan maupun Birdman. Begitu juga Edward Norton sebagai aktor yang menyebalkan dan Emma Stone sebagai anak perempuan Riggan, mampu membawakan karakternya dengan sangat baik. Jangan lupakan juga Zach Galfianikis yang sukses melepaskan karakter bodohnya di Hangover menjadi karakter normal sebagai Jake, sahabat Riggan.

Read More

Senin, 30 Januari 2017

Analisis Film God Must Be Crazy Reviewed by Esemka Date 1/30/2017 06:38:00 AM

Analisis Film God Must Be Crazy

Tidak ada komentar :
Analisis Film
God Must Be Crazy












Fathurrahman Maulana S

NIM. 1455428









INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) BANDUNG
PRODI TELEVISI DAN FILM
2015


Directed by                Jamie Uys
Produced by              Jerry Weintraub
Written by                 Jamie Uys
Narrated by               Paddy O'Byrne
Music by                     Charles Fox
Cinematography        Buster Reynolds
Edited by                    Renée Engelbrecht
Distributed by                        Columbia Pictures (USA) 20th Century Fox
Release dates             13 April 1990
Running time             98 minutes
Country                      South Africa    Botswana

Melihat Xi dan sukunya bertahan hidup di daerah tandus Kalahari menunjukkan suatu keterampilan hidup yang luar biasa. Mereka mengadaptasikan diri mereka dengan lingkungan. Mereka tahu harus berbuat apa dengan lingkungannya, seperti cara mendapatkan air dan makanan.

Dalam kehidupan mereka terlihat bahwa idealisme mereka murni hanya bertahan hidup, karena tidak ada lagi yang mereka kerjakan selain food gathering dan usaha-usaha melengkapi kebutuhan sandang,pangan papan. Membuat mereka tidak menandai hari dengan penanggalan. Mereka hidup berkelompok dalam skala kecil. Karena hidup bersama-sama dalam skala kecil, kehidupan sosial mereka tidak menghasilkan strata dan norma-norma hukum yang pasti, bahkan mereka tidak mengenal system kepunyaan. Satu prinsip yang mereka anut adalah Tuhan menciptakan semuanya untuk kebaikan, sehingga mereka sama sekali tidak memiliki rasa benci terhadap apapun ciptaan lain di sekitar mereka.

Suatu hari Xi menemukan botol kaca. Dalam peradaban mereka kaca adalah sesuatu yang aneh dan baru. Botol kaca itu dibuang oleh pilot pesawat yang melintas di daratan Kalahari. Sedangkan suku di Kalahari menyebut itu sebagai pemberian Tuhan. Botol Kaca ini menjadi pusat perhatian dan semua orang merasa butuh untuk menggunakannya. Mulai muncul ownership dan kecemburuan. Xi berniat mengembalikan benda itu kepada Tuhan, benda itu membawa keburukan bagi mereka, dan mereka menyangka Tuhan pasti telah salah mengirimkan itu kepadanya.

Dari sinilah ia bertekad melemparkan kaca itu ke ujung dunia, perjalanan ke ujung dunia membuat ia menemukan peradaban lain di luar Kalahari yang sudah lebih kompleks dalam interaksi sosialnya. Ada semacam culture Shock yang ia dapatkan, mulai dari menemukan hewan yang berlari sangat cepat (mobil), Tuhan (manusia dengan rambut bewarna dan memiliki pakaian), persamaan hak atas apa yang ada di bumi (pidana membunuh hewan ternak yang bukan kepunyaan).
Sedangkan di sisi lain, di film ini juga diperlihatkan kehidupan perkotaan yang sudah jauh lebih kompleks dan heteorogen. Seolah-olah mereka tidak ingin beradaptasi dengan lingkungan, mereka berusaha mengadaptasikan lingkungan pada kebutuhan mereka, seperti pada pembuatan jalan raya, gedung, dan lain-lain. Ada sistem strata dan sistem kehidupan yang berjalan secara teratur dan di desain sedemikian rupa. Penduduk perkotaan berkomunikasi dengan bahasa universal yang bisa dimengerti semua orang. Mereka mengembangkan teknologi agar mempermudah kehidupan dan upaya memenuhi kebutuhan.

Sangat jauh berbeda melihat corak kehidupan mereka. Saya menyadari bahwa behavior suku di Kalahari dan penduduk di perkotaan atau pedesaan selalu didasari oleh pengetahuan yang dipercaya bisa memenuhi kebutuhan manusia dan mendukung keberlangsungan hidup. Yang sering menjadi masalah, adalah timbulnya stereotypes dan menggunakan parameter yang berbeda dalam menilai kelompok lain di luar kelompok mereka. Padahal bila ditinjau lebih jauh, ada alasan yang kuat dalam mendorong prilaku demikian.

Pelajaran berharga yang saya dapat setelah menonton film ini adalah empati kepada perbedaan. Film ini menyadarkan saya kalau perkembangan teknologi tidak selalu memberikan manfaat  dan efektif dalam mempermudah kehidupan. Akan menjadi suatu masalah besar bagi suku di Kalahari , masalah dalam interaksi sosial dan lingkungan mereka.



Read More

Kamis, 12 Januari 2017

Analisis Film Rurouni Kenshin 3 (Jepang), Alur, Tokoh, Visual Effect, Make up Reviewed by Esemka Date 1/12/2017 06:55:00 AM

Analisis Film Rurouni Kenshin 3 (Jepang), Alur, Tokoh, Visual Effect, Make up

Tidak ada komentar :
Analisis Film
Rurouni Kenshin 3
(Jepang)












Fathurrahman Maulana S

NIM. 1455428









INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) BANDUNG
PRODI TELEVISI DAN FILM
2015






The Legend Ends merupakan bagian kedua dari sekuel film Rurouni Kenshin. Pada film ini mengisahkan kisah lanjutan setelah apa yang terjadi pada film sebelumnya, yakni Kyoto Inferno.
ALUR
Jika pada film Kyoto Inferno alur cerita terasa sangat padat dan berjalan cukup cepat, film terbaru ini menampilkan alur cerita yang sedikit melambat. Lambatnya alur yang berjalan cukup terasa pada bagian awal film dimana Kenshin sedang menjalani latihan bersama sang guru. Pada bagian awal ini penonton akan disuguhkan adegan pertarungan Kenshin bersama sang guru yang berjalan cukup lama.
Fokus cerita yang ada pada film The Legend Ends ini juga tidak sebanyak apa yang ada di Kyoto Inferno. Namun hal ini membuat alur cerita yang disampaikan menjadi sedikit lebih nyaman untuk diikuti. Meski terkadang ada alur yang berjalan cukup lambat.
TOKOH
Juppongatana atau Pasukan Sepuluh Pedang merupakan kumpulan anak buah dari Makoto Shishio. Selain munculnya karakter Shishio, Juppongatana juga menjadi sorotan penting dalam sekuel film Rurouni Kenshin ini.
Namun sayangnya, selama dua bagian film, Kyoto Inferno dan The Legend Ends peran Juppongatana tidak terlalu terlihat. Hanya segelintir anggota Juppongatana saja yang mendapatkan porsi pada film sekuel ini. Dalam sekuel ini terkesan hanya Soujiro Seta (diperankan oleh Ryunosuke Kamiki) yang mendapat porsi peran yang cukup dominan dibandingkan dengan anggota Juppongatana lainnya.
Selain itu, bagi anda yang belum menonton film sebelumnya maupun kurang terlalu akrab dengan seri Rurouni Kenshin, akan sedikit sulit untuk mengenali tokoh-tokoh yang ada. Dalam film ini, pengenalan tokoh kurang dijelaskan secara jelas.
Namun akhir kata, film ini merupakan salah satu bentuk adaptasi live-action dari komik dan seri anime yang cukup sukses. Bagi para penggemar setia seri Rurouni Kenshin atau Samurai X, The Legend Ends menjadi sajian wajib bagi anda.





MAKE UP

Kedua film Kenshin sebelumnya cukup berhasil membuat film ini terasa realistis. Mulai dari desain kostum karakternya, jika kostum karakter versi komik banyak yang out of the box, pada film ini diganti dengan pakaian dengan warna dan gaya sesuai periode restorasi Meiji di Jepang. Para karakter tidak ada yang bersih merona, mereka akan lusuh akibat debu, pasir, keringat, air mata, atau bahkan darah. Efek ini membuat suasana cerita menjadi lebih realistis – tidak peduli secantik ataupun seganteng apapun para pemeran yang beraksi di sini. Hal ini membuat trilogi ini lebih pantas dikategorikan sebagai fiksi – historis, tidak sekadar sebuah fiksi -fantasi.

VISUAL EFFECT

Efek dalam film Kenshin memang telah muncul dari film terdahulu, namun di film ini pemakaian visual effect akan semakin sering muncul. Puing-puing yang berterbangan di latar belakang ikut membuat adegan pertarungan menjadi terasa seru. Dan jangan lupa, salah satu adegan yang paling ditunggu akan hadir di sini, yaitu Ichi no Hiken: Homura Dama, jurus pedang berapi dari Makoto Shishio akibat percikan pedang dengan akumulasi lemak manusia yang menumpuk di pedangnya selama ini. Jurus pedang berapi mungkin adalah jurus picisan, tapi berkat visual efeknya, sepertinya kita akan percaya saja bahwa memang Shishio mampu menembakkan lidah api dari sayatan pedangnya


Bottom of Form



Read More

Jumat, 12 Agustus 2016

Macam macam jenis Shoot, Sudut pengambilan gambar, dan Gerakan Kamera Reviewed by Esemka Date 8/12/2016 04:37:00 PM

Macam macam jenis Shoot, Sudut pengambilan gambar, dan Gerakan Kamera

Tidak ada komentar :
JENIS SHOT
CU (Close Up)
Shot yang menampilkan dari batas bahu sampai atas kepala.
MCU (Medium Close Up)
Shot yang menampilkan sebatas dada sampai atas kepala.
BCU (Big Close Up)
Shot yang menampilkan bagian tubuh atau benda tertentu sehingga tampak besar. Misal : wajah manusia sebatas dagu sampai dahi.
ECU (Extrime Close Up)
Shot yang menampilkan detail obyek. Misalnya mata, hidung, atau telinga.
MS (Medium Shot)
Shot yang menampilkan sebatas pinggang sampai atas kepala.
TS (Total Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan obyek.
ES (Establish Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan pemandangan atau suatu tempat untuk memberi orientasi tempat di mana peristiwa atau adegan itu terjadi.
Two Shot
Shot yang menampilkan dua orang.
OSS (Over Shoulder Shot)
Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame. Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.
 
GERAKAN KAMERA
Panning
Panning adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
Pan right : gerak kamera mendatar dari kiri ke kanan.
Pan left : gerak kamera mendatar dari kanan ke kiri.
Tilting
Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal (posisi kamera tetap di tempat) dari atas ke bawah atau sebaliknya.
Tilt up : gerak kamera secara vertikal dari bawah ke atas.
Tilt down : gerak kamera secara vertikal dari atas ke bawah.
Tracking
Track adalah gerakan kamera mendekati atau menjauhi obyek.
Track in : gerak kamera mendekati obyek
Track out : gerak kamera menjauhi obyek
SUDUT PENGAMBILAN KAMERA
High Angle (Bird eye view)
Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.
Normal Angle
Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.
Low Angle (Frog eye view)
Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.
Obyektive Kamera
Tehnik pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya.
Subyektive Kamera
Tehnik pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa. Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku dalam adegan.
 

Read More